AZMEDIA– Sebuah patung macan putih yang berdiri di wilayah Desa Balongjeruk sempat menjadi sasaran cibiran publik. Wujudnya yang dianggap tidak menyerupai macan putih pada umumnya membuat karya tersebut ramai diparodikan di media sosial. Namun seiring waktu, patung itu justru menjelma menjadi fenomena sosial dan ekonomi yang tak terduga.
Ikon desa yang dibangun secara mandiri dengan biaya sekitar Rp 3,5 juta tersebut kini memiliki nilai tawar yang mencengangkan. Seniman pembuatnya, Suwari, mengungkapkan bahwa karyanya pernah diminati seseorang dengan penawaran mencapai Rp 180 juta.
Menurut Suwari, penawaran itu datang dari individu yang mengaku berasal dari Bali. Meski nominalnya tergolong fantastis, ia memilih untuk tidak melepas patung tersebut. Keputusan itu diambil tanpa alasan yang ia beberkan secara terbuka.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ia mengaku selama ini berkecimpung sebagai pematung berbagai bentuk satwa. Namun ia tidak pernah membayangkan satu karya justru menimbulkan gelombang perhatian luas, baik dalam bentuk kritik, candaan, maupun apresiasi.
Pada awal kemunculannya, patung macan putih itu menuai beragam reaksi. Sebagian warganet menilai tampilannya lebih menyerupai hewan lain, bahkan menjadikannya objek humor digital. Akan tetapi, viralitas tersebut perlahan mengubah persepsi publik.
Alih-alih menjadi bahan olok-olok semata, patung itu justru menarik arus kunjungan masyarakat dari berbagai daerah. Banyak orang datang langsung ke Balongjeruk untuk melihat ikon desa yang ramai diperbincangkan tersebut dan mengabadikannya dalam foto.
Dampak ekonomi pun mulai dirasakan warga sekitar. Kehadiran pengunjung membuka peluang bagi pelaku usaha kecil, mulai dari pedagang makanan hingga jasa parkir. Fenomena ini disambut positif oleh Kepala Desa Balongjeruk, Safi’i.
Ia menilai patung tersebut telah berperan sebagai pemicu pergerakan ekonomi lokal. Pemerintah desa, kata dia, kini tengah memikirkan langkah penataan kawasan agar tetap nyaman bagi pengunjung sekaligus memberi manfaat berkelanjutan bagi masyarakat.
Safi’i juga meluruskan isu terkait pendanaan. Ia menegaskan bahwa pembangunan patung macan putih tidak menggunakan anggaran desa. Seluruh biaya berasal dari dana pribadi setelah melalui kesepakatan bersama dalam forum musyawarah warga.
Pemilihan macan putih sebagai simbol desa bukan keputusan sembarangan. Tokoh masyarakat dan pemuda setempat sepakat mengangkat figur tersebut karena memiliki keterkaitan erat dengan sejarah lisan dan kepercayaan turun-temurun warga Balongjeruk. Dalam narasi lokal, macan putih diyakini sebagai penjaga wilayah secara spiritual.
Nilai simbolik itulah yang juga menjadi pegangan Suwari dalam proses kreatifnya. Ia menyebut patung tersebut tidak dimaksudkan sebagai representasi hewan biasa, melainkan perwujudan makna kultural yang hidup di tengah masyarakat.
Menariknya, sebelum memulai pengerjaan, Suwari mengaku mengalami pengalaman batin yang ia anggap sebagai pertanda. Ia bermimpi terlibat dalam pertunjukan ludruk dengan peran siluman macan putih. Pengalaman tersebut menjadi penguat mental saat mengerjakan patung yang sarat makna.
Proses pembuatan patung berlangsung hampir tiga pekan dan dikerjakan sepenuhnya secara mandiri. Dari pembentukan badan hingga alas patung, seluruh tahapan dilakukan sendiri tanpa bantuan tenaga lain.
Dari sisi anggaran, biaya jasa pembuatan berada di kisaran Rp 2 juta, sementara kebutuhan material menghabiskan sekitar Rp 1,5 juta. Total biaya tersebut sesuai dengan keterangan pemerintah desa terkait pembangunan ikon tersebut.
Meski sempat menuai pro dan kontra di ruang digital, pihak desa memilih bersikap terbuka. Beragam komentar publik dijadikan refleksi untuk pengembangan kawasan ke depan.
Kini, patung macan putih Balongjeruk menjadi contoh bagaimana sebuah karya lokal yang lahir dari keterbatasan, bahkan sempat diremehkan, dapat bertransformasi menjadi aset sosial dan ekonomi bernilai tinggi bagi masyarakat sekitarnya.













