Rakyat Hidup dari Retorika, Mati oleh Keputusan
Negeri ini tidak kekurangan slogan, tetapi kehabisan kejujuran. Sejak lama, rakyat dijejali mitos tentang kemakmuran dan kejayaan, dipoles rapi dalam buku pelajaran, baliho, dan pidato resmi. Namun di balik narasi besar itu, realitas berjalan timpang: sumber daya melimpah tak pernah benar-benar bermuara pada kesejahteraan bersama, melainkan mengalir ke kantong segelintir elite yang pandai berdandan kata.
Yang tersisa bagi rakyat hanyalah janji—diulang, dipermanis, lalu ditinggalkan. Kebijakan lahir tanpa empati, keputusan dibuat jauh dari denyut kehidupan sehari-hari. Negara berbicara angka, sementara rakyat menghitung luka.
Politik sebagai Industri Ilusi
Ruang publik hari ini lebih menyerupai panggung hiburan ketimbang arena tanggung jawab. Wajah-wajah yang sama muncul silih berganti, membawa citra pahlawan instan, sementara kerja sunyi nyaris tak pernah ada. Media sosial menjelma mesin produksi kepalsuan: popularitas dijadikan ukuran kebenaran, keramaian disamakan dengan legitimasi.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam pusaran ini, nalar publik dipelintir. Kritik dianggap ancaman, pertanyaan dicurigai sebagai pembangkangan. Yang dirayakan bukan substansi, melainkan sensasi.
Ilmu yang Dijinakkan, Iman yang Diperdagangkan
Pengetahuan kehilangan martabatnya ketika dipaksa tunduk pada kepentingan kekuasaan. Data dipilih sesuai pesanan, kajian disesuaikan dengan arah angin politik. Sementara itu, agama—yang seharusnya menjadi kompas moral—direduksi menjadi aksesori pidato dan legitimasi kebijakan.
Di mimbar, kata-kata suci dilantunkan dengan fasih. Di balik layar, transaksi kotor disusun tanpa rasa bersalah. Moralitas tidak mati secara tiba-tiba; ia dibunuh perlahan oleh kemunafikan yang dilembagakan.
Wajah Ramah, Tangan Merampas
Institusi publik dipenuhi aktor-aktor yang mahir memainkan peran ganda. Senyum mereka menghiasi poster, tetapi keputusan mereka menggerogoti masa depan. Rakyat dipaksa menonton sandiwara berkepanjangan, di mana kebenaran disamarkan oleh retorika dan tanggung jawab selalu dialihkan.
Yang terjadi bukan sekadar kegagalan kebijakan, melainkan pengkhianatan terhadap amanat.
Krisis Nurani, Bukan Krisis Sumber Daya
Masalah utama bangsa ini bukan pada apa yang dimiliki, melainkan pada siapa yang mengelola. Kita kekurangan pemimpin yang berani jujur saat sunyi, bukan yang fasih berbicara di hadapan kamera. Kekuasaan, tanpa integritas, hanya akan mempercepat pembusukan.
Sejarah tidak akan mengingat jumlah pengikut atau tepuk tangan. Ia mencatat luka, air mata, dan keberanian yang nyata.
Penutup: Kebenaran Tak Butuh Sorotan
Pada akhirnya, kekuasaan hanyalah persinggahan singkat. Tidak ada pencitraan yang bisa menghapus jejak pengkhianatan. Jika bangsa ini ingin bertahan, ia harus kembali pada keberanian paling dasar: mengatakan yang benar, meski tak populer.
Kebenaran tidak berisik. Ia tetap hidup, bahkan ketika ditinggalkan oleh mereka yang takut kehilangaan panggung.
Penulis : Eko Puguh Prasetijo













