NEGARA DI MEJA BEDAH – Bukan Rakyat yang Gagal, Tapi Kekuasaan yang Busuk

Avatar photo

- Jurnalis

Minggu, 4 Januari 2026 - 18:43 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Rakyat Hidup dari Retorika, Mati oleh Keputusan

Negeri ini tidak kekurangan slogan, tetapi kehabisan kejujuran. Sejak lama, rakyat dijejali mitos tentang kemakmuran dan kejayaan, dipoles rapi dalam buku pelajaran, baliho, dan pidato resmi. Namun di balik narasi besar itu, realitas berjalan timpang: sumber daya melimpah tak pernah benar-benar bermuara pada kesejahteraan bersama, melainkan mengalir ke kantong segelintir elite yang pandai berdandan kata.

Yang tersisa bagi rakyat hanyalah janji—diulang, dipermanis, lalu ditinggalkan. Kebijakan lahir tanpa empati, keputusan dibuat jauh dari denyut kehidupan sehari-hari. Negara berbicara angka, sementara rakyat menghitung luka.

Politik sebagai Industri Ilusi

Ruang publik hari ini lebih menyerupai panggung hiburan ketimbang arena tanggung jawab. Wajah-wajah yang sama muncul silih berganti, membawa citra pahlawan instan, sementara kerja sunyi nyaris tak pernah ada. Media sosial menjelma mesin produksi kepalsuan: popularitas dijadikan ukuran kebenaran, keramaian disamakan dengan legitimasi.

Dalam pusaran ini, nalar publik dipelintir. Kritik dianggap ancaman, pertanyaan dicurigai sebagai pembangkangan. Yang dirayakan bukan substansi, melainkan sensasi.

Ilmu yang Dijinakkan, Iman yang Diperdagangkan

Pengetahuan kehilangan martabatnya ketika dipaksa tunduk pada kepentingan kekuasaan. Data dipilih sesuai pesanan, kajian disesuaikan dengan arah angin politik. Sementara itu, agama—yang seharusnya menjadi kompas moral—direduksi menjadi aksesori pidato dan legitimasi kebijakan.

Di mimbar, kata-kata suci dilantunkan dengan fasih. Di balik layar, transaksi kotor disusun tanpa rasa bersalah. Moralitas tidak mati secara tiba-tiba; ia dibunuh perlahan oleh kemunafikan yang dilembagakan.

Wajah Ramah, Tangan Merampas

Institusi publik dipenuhi aktor-aktor yang mahir memainkan peran ganda. Senyum mereka menghiasi poster, tetapi keputusan mereka menggerogoti masa depan. Rakyat dipaksa menonton sandiwara berkepanjangan, di mana kebenaran disamarkan oleh retorika dan tanggung jawab selalu dialihkan.

Baca Juga :  Polisi Sebut Pelajar Tulungagung Depresi Usai Video Pornonya Tersebar

Yang terjadi bukan sekadar kegagalan kebijakan, melainkan pengkhianatan terhadap amanat.

Krisis Nurani, Bukan Krisis Sumber Daya

Masalah utama bangsa ini bukan pada apa yang dimiliki, melainkan pada siapa yang mengelola. Kita kekurangan pemimpin yang berani jujur saat sunyi, bukan yang fasih berbicara di hadapan kamera. Kekuasaan, tanpa integritas, hanya akan mempercepat pembusukan.

Sejarah tidak akan mengingat jumlah pengikut atau tepuk tangan. Ia mencatat luka, air mata, dan keberanian yang nyata.

Penutup: Kebenaran Tak Butuh Sorotan

Pada akhirnya, kekuasaan hanyalah persinggahan singkat. Tidak ada pencitraan yang bisa menghapus jejak pengkhianatan. Jika bangsa ini ingin bertahan, ia harus kembali pada keberanian paling dasar: mengatakan yang benar, meski tak populer.

Kebenaran tidak berisik. Ia tetap hidup, bahkan ketika ditinggalkan oleh mereka yang takut kehilangaan panggung.

Penulis : Eko Puguh Prasetijo

Follow WhatsApp Channel azmedia.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Konsisten Kelola Sampah, Kampung di Surabaya Tembus ProKlim Lestari Tingkat Nasional
Langkah Kecil, Dampak Besar: Kecamatan Bandung Tulungagung Beralih ke Buku Tamu Digital
Dari Tunai ke Nontunai: Pedagang Pasar di Tulungagung Mulai Andalkan QRIS
Menyiapkan Generasi Digital: Depok Dorong Pembelajaran AI dan Coding di Sekolah
Dari Sampah Jadi Berkah: Cara Panggungharjo Menyalakan Ekonomi Warga
Dari Dapur Palembang ke Pasar Dunia: Strategi Produk Pempek Halal Tembus Ekspor
Investasi di Tulungagung Diproyeksi Naik 2026, Perikanan Kian Jadi Magnet
Petani Jamur Tiram di Kota Kediri Jadi Sorotan Srikandi DKPP, Budidaya Baglog Raup Jutaan Rupiah per Bulan

Berita Terkait

Rabu, 14 Januari 2026 - 17:49 WIB

Konsisten Kelola Sampah, Kampung di Surabaya Tembus ProKlim Lestari Tingkat Nasional

Rabu, 14 Januari 2026 - 16:52 WIB

Langkah Kecil, Dampak Besar: Kecamatan Bandung Tulungagung Beralih ke Buku Tamu Digital

Rabu, 14 Januari 2026 - 16:27 WIB

Dari Tunai ke Nontunai: Pedagang Pasar di Tulungagung Mulai Andalkan QRIS

Rabu, 14 Januari 2026 - 15:40 WIB

Dari Sampah Jadi Berkah: Cara Panggungharjo Menyalakan Ekonomi Warga

Rabu, 14 Januari 2026 - 15:24 WIB

Dari Dapur Palembang ke Pasar Dunia: Strategi Produk Pempek Halal Tembus Ekspor

Berita Terbaru