Bapanas Nyatakan Stok Beras Aman, Bulog Usulkan Penguatan APBN

Avatar photo

- Jurnalis

Minggu, 4 Januari 2026 - 15:42 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

AZMEDIA — Ketersediaan beras nasional pada awal 2026 dinilai berada dalam kondisi sangat kuat. Badan Pangan Nasional (Bapanas) mencatat stok beras nasional mencapai 12,529 juta ton, angka yang menunjukkan lonjakan signifikan dibandingkan beberapa tahun terakhir dan menjadi sinyal menguatnya ketahanan pangan nasional.

Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, menyampaikan bahwa capaian tersebut mencerminkan kemampuan produksi dalam negeri yang semakin solid. Menurutnya, kontribusi petani nasional menjadi faktor utama dalam menjaga pasokan beras tanpa ketergantungan pada impor.

“Stok beras yang tersedia saat ini menunjukkan posisi Indonesia yang semakin mandiri dalam pemenuhan kebutuhan pangan pokok,” ujar Ketut, Sabtu (3/1).

ADVERTISEMENT

banner 480x600

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ia menjelaskan, tingginya stok awal 2026 merupakan akumulasi dari sisa persediaan tahun sebelumnya yang berhasil dipertahankan dan ditingkatkan. Kondisi ini dinilai tidak lazim terjadi dalam beberapa tahun terakhir dan menunjukkan perbaikan dalam tata kelola produksi serta cadangan pangan nasional.

Ketut menambahkan, perhitungan stok tersebut mengacu pada Proyeksi Neraca Pangan Nasional Tahun 2026 yang disusun Bapanas dengan menggabungkan data lintas kementerian dan lembaga. Berdasarkan proyeksi tersebut, jumlah beras yang tersedia dinilai mencukupi untuk memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat secara nasional.

Baca Juga :  APBD Tersedot Pembersihan Sungai Brantas, Sampah Sachet Terus Kembali

Ia juga menegaskan bahwa sepanjang 2025, pasokan beras nasional sepenuhnya berasal dari produksi dalam negeri, tanpa tambahan dari impor luar negeri.

Stok Melimpah dan Cadangan Menguat

Dari total stok awal 2026, sekitar 3,248 juta ton merupakan Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang dikelola Perum Bulog. Sementara sisanya tersebar di berbagai lini, mulai dari rumah tangga petani, konsumen, penggilingan padi, pedagang, hingga sektor jasa pangan seperti hotel, restoran, dan katering.

Jika dibandingkan dengan stok awal 2024 yang berada di kisaran 4,1 juta ton, jumlah stok beras nasional meningkat lebih dari tiga kali lipat dalam dua tahun terakhir. Sementara dibandingkan awal 2025, kenaikannya mendekati 50 persen.

Menurut Ketut, lonjakan tersebut tidak terlepas dari sinergi antarinstansi serta kebijakan pemerintah dalam menjaga produksi dan distribusi beras. Dengan kondisi tersebut, pemerintah memastikan tidak ada rencana impor beras konsumsi pada 2026, melanjutkan kebijakan serupa yang telah diterapkan pada 2025.

Pemerintah juga mendorong pelaku usaha pangan dan industri untuk memanfaatkan bahan baku lokal guna memenuhi kebutuhan produksi.

Sementara itu, Kepala Bapanas sekaligus Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menyatakan stok beras nasional berada pada level yang sangat aman. Ia menyebut ketersediaan beras diperkirakan mencukupi hingga periode Ramadan dan Idulfitri 2026.

Baca Juga :  Napi Terorisme di Lapas Tulungagung Bebas Murni, Dapat Remisi 3 Bulan Usai Ikrar Setia NKRI.

Berdasarkan proyeksi kebutuhan konsumsi nasional sekitar 2,6 juta ton per bulan, stok awal 2026 diperkirakan mampu menopang kebutuhan hampir lima bulan. Dengan tambahan produksi beras tahun 2026 yang diperkirakan mencapai 34,7 juta ton, stok akhir tahun diproyeksikan kembali meningkat.

Bulog Dorong Skema Pembiayaan Negara

Di tengah melimpahnya stok, Perum Bulog menyoroti aspek pembiayaan untuk menjaga penyerapan hasil panen petani. Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, menyatakan dukungan anggaran negara dinilai penting guna mendukung target pengadaan beras pada 2026.

Ia mengatakan Bulog tengah membahas kebutuhan pendanaan bersama Kementerian Keuangan agar proses penyerapan berjalan optimal dan efisien. Menurutnya, pembiayaan berbasis pinjaman perbankan berpotensi menambah beban biaya sehingga dukungan APBN atau skema pendanaan berbunga rendah menjadi opsi yang lebih ideal.

Selain beras, Bulog juga mendapat penugasan menyerap jagung dalam jumlah besar pada 2026. Dengan dukungan pendanaan yang memadai, Bulog berharap dapat menjaga stabilitas harga, melindungi petani, serta memperkuat cadangan pangan nasional.

Follow WhatsApp Channel azmedia.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Konsisten Kelola Sampah, Kampung di Surabaya Tembus ProKlim Lestari Tingkat Nasional
Langkah Kecil, Dampak Besar: Kecamatan Bandung Tulungagung Beralih ke Buku Tamu Digital
Dari Tunai ke Nontunai: Pedagang Pasar di Tulungagung Mulai Andalkan QRIS
Menyiapkan Generasi Digital: Depok Dorong Pembelajaran AI dan Coding di Sekolah
Dari Sampah Jadi Berkah: Cara Panggungharjo Menyalakan Ekonomi Warga
Dari Dapur Palembang ke Pasar Dunia: Strategi Produk Pempek Halal Tembus Ekspor
Investasi di Tulungagung Diproyeksi Naik 2026, Perikanan Kian Jadi Magnet
Petani Jamur Tiram di Kota Kediri Jadi Sorotan Srikandi DKPP, Budidaya Baglog Raup Jutaan Rupiah per Bulan

Berita Terkait

Rabu, 14 Januari 2026 - 17:49 WIB

Konsisten Kelola Sampah, Kampung di Surabaya Tembus ProKlim Lestari Tingkat Nasional

Rabu, 14 Januari 2026 - 16:52 WIB

Langkah Kecil, Dampak Besar: Kecamatan Bandung Tulungagung Beralih ke Buku Tamu Digital

Rabu, 14 Januari 2026 - 16:27 WIB

Dari Tunai ke Nontunai: Pedagang Pasar di Tulungagung Mulai Andalkan QRIS

Rabu, 14 Januari 2026 - 15:40 WIB

Dari Sampah Jadi Berkah: Cara Panggungharjo Menyalakan Ekonomi Warga

Rabu, 14 Januari 2026 - 15:24 WIB

Dari Dapur Palembang ke Pasar Dunia: Strategi Produk Pempek Halal Tembus Ekspor

Berita Terbaru