KEDIRI, AZMEDIA.CO.ID – Budidaya jamur tiram kini semakin dilirik sebagai salah satu peluang agribisnis menguntungkan di Kota Kediri. Permintaan pasar yang cenderung stabil bahkan meningkat membuat komoditas ini dinilai menjanjikan, terutama bagi generasi muda yang ingin terjun ke sektor pertanian modern.
Selain masa panen yang relatif cepat, budidaya jamur tiram juga dapat memberikan pendapatan rutin. Dalam siklus produksi normal, jamur tiram biasanya mulai panen sekitar 3–4 bulan setelah persiapan, dengan potensi laba bersih Rp3,5 juta hingga Rp5 juta per bulan, bahkan bisa lebih tinggi tergantung jumlah baglog dan kapasitas kumbung yang dikelola.
Di Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri, usaha budidaya jamur tiram ini ditekuni oleh petani muda milenial, Bangun Naryama Putra. Ketekunannya mengelola kumbung jamur menarik perhatian tim Srikandi DKPP Kota Kediri, yang melakukan kunjungan lapangan sebagai bagian dari pemantauan dan dukungan terhadap pengembangan agribisnis lokal.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Berdasarkan kunjungan tim Srikandi DKPP Kota Kediri pada Selasa, 13 Januari 2026, ke lokasi budidaya jamur tiram milik Bangun Naryama Putra, kondisi kumbung terlihat tertata dan lembap sesuai kebutuhan pertumbuhan jamur. Jamur tiram yang dibudidayakan tampak tumbuh subur dan merata, menunjukkan proses perawatan dilakukan secara konsisten.
Dalam wawancara singkat, Bangun menjelaskan bahwa budidaya jamur tiram tidak hanya soal menanam dan menunggu panen, tetapi juga membutuhkan ketelitian dalam tahapan tertentu, terutama setelah panen.
“Perawatan yang paling menantang justru ada pada pasca panen. Harus teliti, karena kalau tidak rapi dan tidak dijaga kebersihannya, bisa memengaruhi kualitas dan hasil produksi berikutnya,” ujarnya.
Menurutnya, pengelolaan pasca panen yang baik akan membantu menjaga “generasi” jamur tiram selanjutnya tetap sehat, produktif, dan tidak mudah terserang kontaminasi.
Bangun Naryama Putra menjalankan budidaya jamur tiram menggunakan teknik baglog, yakni media tanam berbentuk silinder yang umum digunakan dalam budidaya jamur. Baglog berisi campuran bahan organik, salah satunya serbuk gergaji, yang kemudian dipadatkan dan dibungkus plastik.
Pada salah satu ujung baglog dibuat lubang sebagai tempat tumbuhnya jamur. Dari titik tersebut, jamur tiram akan muncul dan berkembang saat kondisi kelembapan, suhu, dan sirkulasi udara sesuai.
Menariknya, baglog yang digunakan tidak dibeli dari luar. Bangun memproduksi baglog secara mandiri di lokasi budidaya. Cara ini dinilai mampu menekan biaya produksi, sekaligus memberi kontrol lebih besar terhadap kualitas media tanam.
Produksi baglog mandiri juga memungkinkan pengaturan kapasitas sesuai target pasar. Dengan manajemen yang rapi, usaha skala rumahan pun bisa berkembang menjadi skala yang lebih besar.
Untuk pemasaran, jamur tiram segar hasil panen dipasarkan langsung ke sejumlah pasar di wilayah Kediri. Pola pemasaran seperti ini membuat produk cepat terserap dan tetap segar saat sampai ke konsumen.
Tidak hanya menjual dalam bentuk segar, Bangun juga melakukan diversifikasi produk dengan mengolah jamur tiram menjadi keripik jamur. Produk olahan ini memiliki nilai tambah karena daya simpannya lebih lama dan segmentasi pasarnya lebih luas.
Keripik jamur dipasarkan secara langsung, serta memanfaatkan promosi digital melalui media sosial seperti Instagram dan Facebook. Strategi ini dinilai efektif untuk menjangkau konsumen rumahan, reseller, hingga pemesan dari luar wilayah.
Dengan memadukan pemasaran offline (pasar tradisional) dan online (media sosial), usaha jamur tiram bisa bertahan sekaligus berkembang mengikuti tren belanja masyarakat.
Budidaya jamur tiram dianggap cocok untuk petani muda karena tidak memerlukan lahan luas seperti pertanian konvensional. Dengan pengelolaan kumbung yang tepat, usaha ini dapat dijalankan di lingkungan rumah, asalkan suhu dan kelembapan dapat dikontrol.
Melihat potensi bisnis jamur tiram yang terus tumbuh, harapannya semakin banyak petani muda milenial di Kota Kediri yang ikut berinovasi. Tidak hanya memperbesar skala budidaya, namun juga mengembangkan produk turunan seperti:
-
keripik jamur aneka rasa,
-
jamur tiram crispy siap saji,
-
abon jamur,
-
bakso jamur,
-
hingga frozen food berbahan jamur.
Inovasi olahan dinilai bisa meningkatkan nilai jual dan margin keuntungan, sekaligus memperkuat daya saing produk lokal.
Kegiatan kunjungan lapangan seperti yang dilakukan Srikandi DKPP Kota Kediri juga menjadi sinyal bahwa pertanian modern berbasis komoditas bernilai ekonomis mendapatkan perhatian. Budidaya jamur tiram dapat menjadi salah satu model penguatan ekonomi lokal, sekaligus mendukung kemandirian pangan yang lebih beragam.
Dengan perawatan yang disiplin, pengolahan pasca panen yang teliti, serta strategi pemasaran yang adaptif, budidaya jamur tiram di Kediri berpotensi menjadi sektor usaha yang tidak hanya menguntungkan, tetapi juga menciptakan lapangan kerja dan mendorong lahirnya wirausaha muda di bidang pertanian.













