AZMEDIA – Di tengah isu kelangkaan susu UHT di sejumlah gerai ritel, permintaan susu sapi segar dari industri pengolahan justru mengalami peningkatan signifikan. Ketua Asosiasi Peternak Sapi Perah Indonesia (APSPI), Agus Warsito, menyebut lonjakan permintaan tersebut mencapai lebih dari 20 persen.
Menurut Agus, hampir seluruh pabrikan pengolahan susu saat ini meminta tambahan pasokan dari peternak. Kenaikan permintaan tersebut dinilai cukup besar dan terjadi dalam waktu relatif singkat.
“Permintaan memang meningkat. Hampir semua pabrikan meminta tambahan pasokan susu segar, kenaikannya cukup signifikan, lebih dari 20 persen,” ujar Agus saat dihubungi, Jumat (9/1).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kelangkaan susu UHT belakangan ramai diperbincangkan di media sosial. Sejumlah konsumen mengeluhkan sulitnya mendapatkan produk susu UHT, yang diduga terserap untuk kebutuhan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Bahkan, beberapa ritel memberlakukan pembatasan pembelian maksimal empat kemasan per orang.
Pantauan di lapangan menunjukkan kondisi stok yang tidak merata. Di salah satu gerai Indomaret di wilayah Bekasi, susu UHT varian full cream dilaporkan kosong selama sekitar satu pekan. Pihak kasir menyebutkan produk tersebut kerap habis setiap kali pasokan baru datang.
“Sudah sekitar semingguan kosong, belum ada kiriman lagi. Begitu masuk, biasanya langsung habis,” ujar salah satu pegawai ritel.
Namun demikian, kondisi berbeda terlihat di beberapa gerai ritel lain. Di sejumlah toko Superindo dan Alfamart di kawasan yang sama, stok susu UHT masih tersedia dan belum diberlakukan pembatasan pembelian.
Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Nanik Sudaryati Deyang, mengakui bahwa susu menjadi salah satu komponen menu dalam program MBG yang permintaannya cukup tinggi. Meski demikian, ia memastikan pasokan susu nasional secara umum masih dalam kondisi aman.
Menurut Nanik, pemerintah saat ini tengah memperkuat kapasitas produksi melalui pembangunan pabrik baru dan pengembangan ratusan peternakan sapi perah di berbagai daerah.
“Pemerintah sedang membangun pabrik-pabrik baru dan mengembangkan sekitar 500 peternakan untuk memperkuat produksi,” jelasnya.
Ia menilai peningkatan permintaan susu justru dapat memberikan dampak positif bagi industri. Dengan bertambahnya volume produksi, peluang penyerapan tenaga kerja juga diperkirakan akan meningkat.
Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo), Solihin, menjelaskan bahwa ritel pada dasarnya menjual produk sesuai kebutuhan konsumen akhir. Jumlah stok biasanya ditentukan berdasarkan rata-rata permintaan bulanan.
Jika terjadi lonjakan kebutuhan, ritel akan menyesuaikan dengan meminta tambahan pasokan dari produsen. Namun, ia mengakui saat ini banyak pihak industri yang membeli susu UHT dalam jumlah besar melalui ritel.
“Kalau kebutuhan besar, sebaiknya langsung ke produsen. Barang sebenarnya ada di produsen, tinggal mekanisme distribusinya,” pungkas Solihin.













