AZMEDIA – Fenomena lubang besar atau sinkhole yang muncul secara tiba-tiba di Nagari Situjuah, Sumatera Barat, mengejutkan warga setempat. Kemunculan lubang raksasa tersebut terjadi di area permukiman dan memicu kekhawatiran akan keselamatan lingkungan sekitar.
Lubang dengan diameter lebih dari 10 meter itu dilaporkan terbentuk secara mendadak. Kondisinya masih berpotensi melebar dan bertambah dalam, sehingga meningkatkan risiko bagi warga yang beraktivitas di sekitarnya.
Dosen Teknik Geologi Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada, Wahyu Wilopo, menjelaskan bahwa peristiwa tersebut dipicu oleh kombinasi kondisi geologi dan faktor cuaca ekstrem. Salah satu pemicu utamanya adalah tingginya curah hujan yang terjadi akibat Siklon Senyar pada akhir November 2025.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Wilayah Sumatera Barat memiliki satuan batuan tertentu seperti batu gamping. Ketika curah hujan meningkat drastis akibat Siklon Senyar, kondisi tersebut sangat memungkinkan terjadinya sinkhole,” ujar Wahyu, dikutip dari keterangan resmi UGM, Rabu (7/1).
Secara geologis, Wahyu menjelaskan bahwa sinkhole tidak dapat terbentuk di semua jenis tanah. Fenomena ini umumnya terjadi di kawasan karst atau batu gamping, tanah berongga, serta material vulkanik yang telah mengalami pelapukan.
Di daerah karst, air hujan dapat melarutkan batuan kapur dan membentuk rongga di bawah permukaan tanah. Seiring waktu, rongga tersebut dapat runtuh dan memunculkan lubang besar di permukaan.
Selain faktor alam, aktivitas manusia juga berperan mempercepat terbentuknya sinkhole. Eksploitasi air tanah secara berlebihan dapat menurunkan muka air tanah, memperbesar rongga bawah tanah, dan melemahkan struktur tanah.
Dampak sinkhole tidak hanya merusak lahan dan mengubah bentang alam, tetapi juga berpotensi mencemari air tanah serta mengganggu ekosistem. Rongga yang terbentuk dapat menjadi jalur masuk limbah ke sistem sungai bawah tanah, sementara kemunculannya yang tiba-tiba menimbulkan risiko keselamatan jiwa dan trauma psikologis bagi warga.
“Fenomena ini dapat membahayakan keselamatan manusia, merusak infrastruktur, dan mengganggu aktivitas serta roda ekonomi masyarakat,” jelas Wahyu.
Terkait penanganan, Wahyu menegaskan bahwa sinkhole tidak cukup ditangani dengan menutup lubang secara fisik. Diperlukan kajian ilmiah melalui survei geologi dan geofisika untuk mengetahui kedalaman serta sebaran rongga bawah tanah, seperti metode geolistrik, seismik, dan ground penetrating radar (GPR).
“Penanganan harus mencakup pengelolaan air, penguatan tanah, serta memastikan stabilitas struktur di sekitarnya,” tambahnya.
Meski sulit dicegah sepenuhnya, dampak sinkhole dinilai masih dapat diminimalkan melalui langkah mitigasi dan kewaspadaan dini. Wahyu mengimbau masyarakat di wilayah rawan, khususnya kawasan karst, untuk mewaspadai tanda-tanda awal seperti retakan tanah, penurunan permukaan secara perlahan, atau perubahan aliran air.
“Pemerintah perlu melakukan pemetaan wilayah rawan sinkhole, sementara masyarakat diharapkan aktif melaporkan gejala awal yang mencurigakan,” pungkasnya.













