AZMEDIA – Kenaikan harga sejumlah bahan pangan memaksa para pelaku usaha warung tegal (warteg) untuk mencari cara agar usaha tetap berjalan. Lonjakan harga komoditas seperti cabai, daging ayam, hingga daging sapi membuat pedagang harus cermat mengatur strategi agar keuntungan harian tidak tergerus.
Beragam langkah dilakukan demi menekan biaya operasional tanpa harus menaikkan harga jual secara drastis. Salah satunya dilakukan Dewi, pedagang warteg di kawasan Jatiasih, Bekasi. Ia mengaku memilih menyesuaikan porsi bahan tertentu ketika harga melonjak.
Menurutnya, saat harga cabai naik menjelang periode libur panjang akhir tahun, penggunaan cabai dalam masakan sengaja dikurangi. Langkah tersebut dipilih agar harga menu tetap terjangkau bagi pelanggan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Untuk sambal misalnya, porsinya sedikit disesuaikan supaya masih bisa ambil untung,” ujarnya.
Namun, kebijakan berbeda diterapkan ketika harga ayam potong mengalami kenaikan. Dewi memilih menaikkan harga jual sebesar Rp1.000 per potong dibandingkan harus mengurangi ukuran sajian.
“Kalau ayam kemarin memang terpaksa naikkan harga sedikit. Mudah-mudahan pembeli bisa maklum,” katanya.
Pengalaman serupa juga dirasakan Fitri, pedagang warteg lainnya. Ia mengaku melakukan penyesuaian pada penggunaan bahan baku, khususnya untuk menu berbahan dasar cabai.
“Masakan seperti balado kan pakai cabai banyak. Nah, itu jumlah cabainya kita kurangi waktu memasak,” tuturnya.
Meski demikian, Fitri menegaskan bahwa penyesuaian tersebut tidak berimbas pada porsi makanan yang diterima pelanggan. Ia menilai fluktuasi harga bahan pangan merupakan risiko yang sudah menjadi bagian dari dunia usaha kuliner.
“Porsi tetap sama. Harga bahan pokok memang naik turun, itu sudah jadi tantangan sehari-hari kami sebagai pedagang,” pungkasnya.













