AZMEDIA – Awal tahun kerap menjadi momentum bagi banyak orang untuk menyusun resolusi keuangan. Namun dalam praktiknya, tidak sedikit rencana yang hanya bertahan di atas kertas dan sulit dijalankan secara konsisten. Padahal, resolusi keuangan dibutuhkan sebagai panduan agar pengelolaan finansial lebih terarah di masa depan.
Memasuki 2026, para perencana keuangan menilai penyusunan resolusi perlu dilakukan secara realistis dan terukur, dengan mempertimbangkan kondisi keuangan masing-masing individu. Tanpa perencanaan yang matang, resolusi berisiko berhenti sebagai wacana semata.
Fokus pada target yang paling berdampak
Perencana keuangan OneShildt, Budi Rahardjo, mengatakan langkah awal yang perlu dilakukan adalah menetapkan target keuangan yang masuk akal dan sesuai kemampuan. Menurutnya, menetapkan terlalu banyak target dalam waktu singkat justru dapat melemahkan komitmen.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Resolusi keuangan sebaiknya disesuaikan dengan kondisi nyata. Jika terlalu memaksakan banyak tujuan sekaligus, biasanya akan sulit dijalankan,” ujarnya kepada Azmedia, Jumat (2/1).
Budi menilai resolusi sebaiknya dikerjakan secara bertahap, dimulai dari tujuan yang memberikan dampak besar terhadap kondisi keuangan, seperti membangun disiplin dalam mengatur pengeluaran melalui anggaran yang jelas.
Langkah tersebut dinilai dapat menjadi dasar bagi tujuan keuangan lainnya, termasuk pembentukan dana darurat, perencanaan investasi, hingga pelunasan utang, selama dijalankan secara konsisten.
Lakukan evaluasi keuangan secara objektif
Selain penetapan target, evaluasi kondisi keuangan menjadi tahapan penting sebelum menyusun resolusi baru. Budi menekankan perlunya meninjau kembali arus kas, khususnya untuk melihat pola pengeluaran yang perlu diperbaiki.
“Perlu dicek pengeluaran dari bulan ke bulan, apakah ada lonjakan yang tidak terkendali, sekaligus melihat kondisi aset, utang, dan investasi,” jelasnya.
Sementara itu, perencana keuangan Mitra Rencana Edukasi (MRE), Andi Nugroho, menyarankan agar evaluasi tidak dilakukan hanya setahun sekali. Menurutnya, pengecekan berkala dapat membantu menjaga resolusi tetap berjalan.
“Evaluasi idealnya dilakukan setiap tiga atau enam bulan agar kita tahu apakah target sudah mulai dijalankan atau perlu penyesuaian,” kata Andi.
Susun prioritas sesuai kebutuhan
Bagi masyarakat dengan penghasilan terbatas, penyusunan resolusi keuangan perlu diawali dengan penentuan prioritas. Budi menyebutkan, pemenuhan kebutuhan pokok, pengelolaan utang, dan upaya meningkatkan pendapatan perlu menjadi perhatian utama.
Andi juga menilai resolusi keuangan tidak harus rumit. Menurutnya, resolusi yang sederhana dan relevan dengan kondisi justru lebih mudah dijalankan.
“Tidak perlu banyak target. Yang penting realistis dan sesuai kemampuan,” ujarnya.
Ia menyarankan penerapan prinsip SMART—spesifik, terukur, dapat dicapai, realistis, dan memiliki batas waktu—agar resolusi lebih jelas dan tidak memberatkan.
Konsistensi menentukan keberhasilan
Para perencana keuangan sepakat bahwa kegagalan resolusi kerap disebabkan oleh kurangnya konsistensi. Budi menilai penting bagi seseorang untuk memiliki alasan yang kuat dalam menyusun resolusi keuangan.
“Resolusi bisa berhenti di tengah jalan jika motivasinya tidak jelas atau tidak dijaga,” katanya.
Ia juga menyarankan agar resolusi keuangan dikomunikasikan dengan pasangan atau keluarga sebagai bentuk dukungan bersama.
Sementara itu, Andi menekankan pentingnya disiplin dan evaluasi rutin agar resolusi tetap berada di jalur yang benar. Menurutnya, target yang terlalu tinggi tanpa perhitungan justru berisiko membuat resolusi gagal.
Dengan perencanaan yang realistis dan evaluasi berkelanjutan, resolusi keuangan 2026 diharapkan dapat dijalankan secara konsisten dan membantu menciptakan kondisi finansial yang lebih sehat.













