Apakah Bahan Bakar Pesawat Dari Kotoran Manusia,Bisa Jadi Masadepan Penerbangan ?

Avatar photo

- Jurnalis

Selasa, 16 Januari 2024 - 03:04 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Tulungagung,AZMEDIA.CO.ID-Sejumlah perusahaan kian kreatif dalam menciptakan bahan bakar jet alternatif yang berkelanjutan. Ada inisiatif pesawat menggunakan bahan bakar minyak goreng hingga ada pula yang bahan bakar jet seluruhnya terbuat dari kotoran manusia.
Inovasi itu diciptakan oleh Firefly Green Fuels, sebuah perusahaan penerbangan yang berbasis di Gloucestershire, Inggris. Prospek pesawat bertenaga kotoran sedang menarik perhatian.
Meskipun bahan bakar penerbangan berkelanjutan (SAF) bukanlah hal baru, gagasan untuk menggunakan limbah, seperti limbah yang melimpah dan tidak dapat dihindari, merupakan hal baru. Jadi, apakah ini benar-benar masa depan bagi perjalanan udara?

054030400 1610270651 trinity moss CwlFCanvxr8 unsplash Apakah Bahan Bakar Pesawat Dari Kotoran Manusia,Bisa Jadi Masadepan Penerbangan ?

Penerbangan komersial menghasilkan sekitar 2,5 persen emisi karbon global, yang berkontribusi terhadap perubahan iklim. Upaya untuk mengurangi dampak sektor ini terus dilakukan melalui pengembangan pesawat listrik dan bertenaga hidrogen.

Namun, teknologi ini masih jauh dari jangkauan untuk mendukung penerbangan penumpang jarak jauh. Sebaliknya, industri ingin menggunakan SAF, dengan Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) memperkirakan bahwa SAF dapat berkontribusi hingga 65 persen dari pengurangan emisi yang diperlukan agar penerbangan dapat mencapai net-zero pada 2050.

SAF terbakar seperti bahan bakar jet pada umumnya dan menghasilkan jumlah emisi yang sama saat pesawat terbang, namun jejak karbonnya lebih rendah selama seluruh siklus produksinya. Hal ini dikarenakan biasanya terbuat dari tumbuhan yang telah menyerap karbon dioksida (CO2) dari atmosfer saat masih hidup.

Pengembangan Sejak 2000-an

Dalam kasus kotoran, kotoran tersebut terbuat dari tumbuhan dan makanan lain yang telah dimakan manusia dan melewati sistem pencernaan. CO2 yang diserap dilepaskan kembali ke atmosfer ketika SAF terbakar, sedangkan pembakaran bahan bakar jet yang terbuat dari bahan bakar fosil mengeluarkan karbon yang telah dikunci.

Sejauh ini, limbah merupakan sumber daya yang belum dimanfaatkan dalam SAF. Namun, James Hygate, CEO Firefly, berpendapat bahwa ini adalah peluang yang terlewatkan.

“Ada banyak sekali, ada di mana-mana di dunia dan saat ini tidak ada manfaatnya karena menjadikannya bahan yang bernilai sangat rendah,”

Baca Juga :  11 Cara Mengatasi WiFi Lemot dengan Mudah biar Internetan Lancar

Hasil Analisis Peneliti

Hasil awalnya cukup menjanjikan, dengan analisis independen yang dilakukan oleh para peneliti di universitas-universitas di Uni Eropa dan Amerika Serikat menemukan bahwa bahan bakar tersebut hampir identik dengan bahan bakar jet fosil standar. Menurut analisis siklus hidup yang dilakukan oleh Cranfield University di Inggris, bahan bakar ini juga memiliki jejak karbon 90 persen lebih rendah dibandingkan bahan bakar jet standar. Firefly ingin meningkatkan produksinya di tahun-tahun mendatang.

Kuantitas Limbah

Mendapatkan limbah harus dilakukan dengan mudah, katanya, seraya menambahkan bahwa Firefly sudah berbincang dengan sejumlah perusahaan utilitas air di Inggris. Namun, dia mengakui bahwa pembiayaan fasilitas pemrosesan bisa menjadi sebuah tantangan.

“Ini adalah proyek infrastruktur besar yang membutuhkan dana agar bisa benar-benar membuahkan hasil,” katanya. Sejauh ini, perusahaan tersebut menerima hibah penelitian senilai 2 juta pound sterling (Rp39,5 miliar) dari Pemerintah Inggris dan investasi 5 juta pound sterling (Rp98,9 juta) dari maskapai penerbangan Eropa Wizz Air.

Follow WhatsApp Channel azmedia.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Digitalisasi Retribusi Pasar Tulungagung: Antara Transparansi, Keadilan, dan Tantangan Pedagang Kecil
Langkah Kecil, Dampak Besar: Kecamatan Bandung Tulungagung Beralih ke Buku Tamu Digital
Dari Tunai ke Nontunai: Pedagang Pasar di Tulungagung Mulai Andalkan QRIS
Menyiapkan Generasi Digital: Depok Dorong Pembelajaran AI dan Coding di Sekolah
Indonesia Memimpin Etika Digital: Grok Diblokir Sementara Demi Perlindungan Publik
Biar Makin Cerdas Digital: 4 Cara Cepat Bedakan Foto AI dan Foto Nyata
Pemblokiran Aplikasi China Meluas, Ini Latar Belakangnya
Ancaman Siber Telekomunikasi

Berita Terkait

Jumat, 23 Januari 2026 - 17:10 WIB

Digitalisasi Retribusi Pasar Tulungagung: Antara Transparansi, Keadilan, dan Tantangan Pedagang Kecil

Rabu, 14 Januari 2026 - 16:52 WIB

Langkah Kecil, Dampak Besar: Kecamatan Bandung Tulungagung Beralih ke Buku Tamu Digital

Rabu, 14 Januari 2026 - 16:27 WIB

Dari Tunai ke Nontunai: Pedagang Pasar di Tulungagung Mulai Andalkan QRIS

Rabu, 14 Januari 2026 - 16:07 WIB

Menyiapkan Generasi Digital: Depok Dorong Pembelajaran AI dan Coding di Sekolah

Selasa, 13 Januari 2026 - 17:25 WIB

Indonesia Memimpin Etika Digital: Grok Diblokir Sementara Demi Perlindungan Publik

Berita Terbaru

Bisnis

33 Coffee and Go Tumbuh dari Ketekunan Usaha Lokal

Rabu, 28 Jan 2026 - 17:16 WIB

News Update

Menuju Subsidi Tepat Sasaran: Penyesuaian Kuota BBM Tahun 2026

Rabu, 28 Jan 2026 - 15:59 WIB