AZMEDIA — Wali Kota Solo, Jawa Tengah, Respati Ardi, menilai pesatnya pertumbuhan usaha kedai kopi di wilayahnya ikut memberi tekanan terhadap laju inflasi daerah. Menurutnya, selain faktor pangan, perkembangan sektor gaya hidup juga mulai berpengaruh terhadap pergerakan harga.
Respati menjelaskan, hingga saat ini komoditas pangan seperti bawang merah, bawang putih, dan cabai masih menjadi penyumbang utama inflasi di Kota Solo. Namun, ia mengungkapkan bahwa tren konsumsi masyarakat turut berubah seiring menjamurnya coffee shop dalam beberapa tahun terakhir.
“Di luar bahan pangan, sektor coffee shop juga memberikan kontribusi terhadap inflasi di Solo,” ujar Respati usai mendampingi Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan saat pembukaan Pasar Murah di Solo, Jumat (2/1).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ia menuturkan meningkatnya jumlah kedai kopi mendorong konsumsi kopi masyarakat menjadi lebih tinggi. Kondisi tersebut berdampak langsung pada meningkatnya permintaan biji kopi, yang pada akhirnya memicu kenaikan harga bahan baku.
“Permintaan yang tinggi membuat harga biji kopi ikut naik. Ada beberapa harga yang pergerakannya terasa kurang wajar,” jelasnya.
Jumlah Coffee Shop Terus Bertambah
Respati mengungkapkan, saat ini terdapat sekitar 174 coffee shop baru yang beroperasi di Kota Solo. Menurutnya, fenomena tersebut merupakan bagian dari perubahan gaya hidup masyarakat, terutama di kalangan generasi muda.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa pertumbuhan satu sektor usaha yang terlalu cepat dapat berdampak kurang baik terhadap stabilitas ekonomi daerah. Oleh karena itu, pemerintah daerah perlu mengambil peran sebagai penyeimbang.
“Kalau pertumbuhan satu industri terlalu drastis, tentu tidak sehat. Pemerintah harus hadir sebagai penengah,” katanya.
Untuk menekan tekanan harga, Pemerintah Kota Solo berupaya menjaga ketersediaan pasokan biji kopi. Salah satu langkah yang ditempuh adalah menjalin kerja sama dengan daerah penghasil kopi guna memastikan rantai pasok tetap lancar dan harga lebih terkendali.
“Kami mencoba bekerja sama dengan daerah penghasil kopi seperti Temanggung, agar harga bisa lebih stabil dan tidak saling merugikan,” ujarnya.
Sementara itu, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Kota Solo mencatat inflasi tahunan atau year on year (YoY) sebesar 2,73 persen per Oktober 2025. Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya menjadi penyumbang inflasi tertinggi dengan angka 12,29 persen, disusul kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 4,21 persen, serta kelompok penyedia makanan dan minuman atau restoran sebesar 3,69 persen.













