TULUNGAGUNG, AZMEDIA — Pasar Wage yang dulu dikenal sebagai salah satu rujukan belanja kini mulai kehilangan keramaian. Sejumlah pedagang mengakui, arus pembeli tidak lagi seramai masa lalu. Perubahan zaman dan kebiasaan belanja yang bergeser ke platform online disebut menjadi faktor paling terasa yang membuat pasar pakaian tradisional kian tertekan.
Di lapak-lapak pakaian, sebagian pedagang menyampaikan bahwa pembeli yang datang cenderung hanya melihat-lihat, membandingkan harga, lalu menunda keputusan. Tidak sedikit yang mengaku “cuci mata” di pasar, namun akhirnya membeli lewat ponsel karena tergiur promo, gratis ongkir, atau pilihan model yang lebih banyak.
Online Mengubah Peta Persaingan
Belanja online membuat persaingan tidak lagi antar-pedagang satu pasar, melainkan melawan ribuan penjual dari berbagai kota. Model, warna, dan ukuran tersedia lengkap, bisa dikirim ke rumah, bahkan bisa retur. Bagi pasar pakaian, perubahan ini terasa seperti “gelombang besar” yang menggerus cara berdagang konvensional.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Namun, pedagang juga menilai ada hal yang belum bisa digantikan oleh sistem online: pembeli bisa memegang bahan, mencoba ukuran, dan menawar langsung. Sayangnya, keunggulan itu sering tidak cukup jika pasar kurang nyaman, model barang tidak mengikuti tren, atau pelayanan tidak memudahkan pembeli.
Mengapa Pasar Pakaian Makin Terasa “Tua”?
Selain faktor online, ada persoalan yang sering muncul di pasar pakaian yang sudah “terbentuk” sejak lama:
-
Stok dan model lambat mengikuti tren, sehingga kurang menarik bagi pembeli muda.
-
Display kurang menggoda, lapak terlihat padat dan tidak tertata, membuat pembeli cepat lelah.
-
Jam belanja berubah, pembeli kini ingin cepat, praktis, dan tidak ingin berdesakan.
-
Kenyamanan pasar (penerangan, ventilasi, kebersihan, parkir) memengaruhi keputusan orang untuk datang.
Jika kondisi tersebut tidak dibenahi, pasar pakaian semakin sulit bersaing di era belanja cepat.
Jalan Keluar: Adaptasi Tanpa Kehilangan Ciri Pasar
Meski tantangannya besar, Pasar Wage masih punya peluang bertahan—asal mau beradaptasi. Beberapa langkah yang realistis diterapkan pedagang dan pengelola:
-
Hybrid: jual offline + online
Pedagang bisa mulai dari yang paling sederhana: foto produk, unggah di status WA, buat katalog, dan terima pesanan lewat chat. Tidak harus marketplace besar dulu—yang penting ada “etalase digital”. -
Fokus ke keunggulan yang online sulit saingi
Misalnya: ukuran lengkap untuk badan tertentu, bahan premium yang bisa diraba langsung, layanan permak cepat, atau paket “coba dulu baru beli” di lapak. -
Perbarui model & putar stok lebih cepat
Tidak harus mahal—kuncinya memilih model yang sedang dicari, warna yang tren, dan berani mengurangi stok lama yang menumpuk. -
Naikkan kualitas display
Lapak rapi, pencahayaan cukup, kategori barang jelas, dan harga tertera. Pembeli modern suka yang simpel dan tidak bikin bingung. -
Gerakan bersama di level pasar
Pengelola dapat membuat “hari ramai” tematik (bazar fashion murah, thrifting day yang tertib, atau promo serentak). Jika digerakkan bersama, dampaknya lebih terasa.
Pasar Wage sedang diuji oleh perubahan kebiasaan belanja. Namun pasar tradisional tidak harus kalah oleh online. Dengan strategi yang lebih modern—tanpa meninggalkan ciri khas tawar-menawar dan pengalaman mencoba langsung—Pasar Wage masih bisa menemukan bentuk barunya: bukan sekadar bertahan, tetapi tumbuh dengan cara yang relevan untuk zaman sekarang.













