AZMEDIA – Pergerakan nilai tukar rupiah pada awal perdagangan Selasa pagi (6/1) menunjukkan kecenderungan menguat terbatas. Di pasar spot, mata uang nasional dibuka di kisaran Rp16.736 per dolar AS, mencatat apresiasi tipis sekitar 4 poin atau setara 0,02 persen dibandingkan penutupan sebelumnya.
Di kawasan Asia, pergerakan mata uang berlangsung beragam. Baht Thailand tercatat menguat tipis, sementara yen Jepang dan won Korea Selatan justru berada di zona pelemahan. Dolar Singapura juga bergerak melemah, sedangkan yuan China menunjukkan kenaikan sangat terbatas. Peso Filipina ikut terkoreksi ringan pada perdagangan pagi ini.
Sementara itu, tekanan lebih terlihat pada mata uang negara-negara maju. Poundsterling Inggris, euro Eropa, hingga franc Swiss tercatat melemah. Kondisi serupa juga dialami dolar Australia dan dolar Kanada yang bergerak turun meski dalam rentang terbatas.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pengamat pasar dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai peluang penguatan rupiah masih terbuka seiring melemahnya dolar Amerika Serikat di pasar global. Pelemahan dolar tersebut dipicu oleh rilis data sektor manufaktur AS yang berada di bawah ekspektasi pelaku pasar.
Namun demikian, ia menilai ruang penguatan rupiah tidak akan terlalu besar. Data perdagangan Indonesia yang dirilis sehari sebelumnya dinilai belum memberikan sentimen positif yang cukup kuat bagi pergerakan rupiah.
Menurut proyeksinya, nilai tukar rupiah sepanjang hari ini diperkirakan bergerak dalam rentang Rp16.700 hingga Rp16.800 per dolar AS, dengan kecenderungan fluktuasi terbatas mengikuti dinamika sentimen global dan regional.













