Merajut Harapan dari Balik Jeruji: Ketika Warga Binaan Menyiapkan Masa Depan

Avatar photo

- Jurnalis

Rabu, 28 Januari 2026 - 16:34 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

AZMEDIA | Magetan — Dari balik tembok Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Magetan, lahir karya-karya rajut yang kini menembus pasar luar daerah hingga mancanegara. Tas, dompet, dan aksesori rumah tangga itu bukan sekadar produk kerajinan, melainkan simbol harapan baru bagi para warga binaan yang sedang menjalani masa pidana.

Di balik gerakan sosial tersebut, ada sosok Amandawati—Amanda—seorang pelaku usaha yang memilih mengabdikan keahliannya untuk pemberdayaan warga binaan. Melalui pelatihan merajut, ia membuka ruang belajar sekaligus peluang ekonomi bagi mereka yang kerap dipinggirkan oleh stigma masa lalu.

Aktivitas pelatihan digelar secara rutin di dalam lapas. Puluhan warga binaan, baik perempuan maupun laki-laki, belajar dari tahap paling dasar. Banyak di antara mereka yang baru pertama kali memegang jarum rajut. Prosesnya tidak instan, bahkan sering kali diwarnai kesalahan yang mengharuskan hasil kerja dibongkar dan diulang.

“Yang terpenting adalah kesabaran dan kemauan belajar. Kualitas itu dilatih, bukan dibawa sejak lahir,” ujar Amanda saat mendampingi peserta pelatihan.

Keterlibatan Amanda berawal setelah ia pensiun dari dunia perbankan. Sejak 2016, ia mulai berpindah dari satu lapas ke lapas lain—Magetan, Solo, Kediri, Sidoarjo, hingga Rutan Ngawi—memberikan pelatihan sekaligus pendampingan berkelanjutan. Tidak hanya mengajarkan keterampilan produksi, Amanda juga membantu memasarkan hasil karya warga binaan melalui brand miliknya, Ruang Tamu.

Hasilnya, produk rajutan buatan warga binaan kini dipasarkan ke kawasan wisata seperti Lombok, bahkan dipajang di beberapa hotel ternama. Sistem pembagian hasil dilakukan secara transparan melalui pihak rutan, sehingga warga binaan memperoleh penghasilan dari karya mereka sendiri.

Bagi para peserta, pelatihan ini membawa dampak lebih dari sekadar ekonomi. Aktivitas merajut membantu mereka mengelola tekanan psikologis, melatih fokus, serta membangun kembali rasa percaya diri. Sejumlah warga binaan mengaku mulai berani merencanakan kehidupan setelah bebas, sesuatu yang sebelumnya terasa mustahil.

Baca Juga :  pemohon SIM di Satlantas Polres Kediri terus meningkat. Bahkan, peningkatan pemohon mencapai dua kali lipat dari sebelumnya.

“Saya jadi punya gambaran mau usaha apa nanti,” ujar salah satu warga binaan perempuan yang mengikuti pelatihan.

Amanda menegaskan bahwa pembinaan tidak seharusnya berhenti saat masa hukuman selesai. Ke depan, ia berencana membangun sanggar kerajinan di dalam lapas sebagai pusat produksi dan pembelajaran yang lebih terstruktur. Ia juga membuka peluang kerja bagi warga binaan yang telah bebas.

Baginya, rajutan bukan sekadar benang yang saling terhubung. Ia adalah proses memulihkan harapan—bahwa setiap orang, apa pun masa lalunya, tetap memiliki kesempatan untuk memperbaiki hidup dan merajut masa depan yang lebih bermakna.

Follow WhatsApp Channel azmedia.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

33 Coffee and Go Tumbuh dari Ketekunan Usaha Lokal
Menuju Subsidi Tepat Sasaran: Penyesuaian Kuota BBM Tahun 2026
Industri Kosmetik Berstandar Global Tumbuh dari Desa Rejotangan Tulungagung
Jaksa Masuk Sekolah di SMPN 1 Ngasem Kediri: Pendidikan Hukum sebagai Proyek Kesadaran Publik
Ekonomi Mikro Tetap Berputar: Jasa Permak Kenayan Tulungagung Masih Ramai
Rofian: Dari Penjual Jamu Keliling Menjadi Pengacara, Mengangkat Derajat Keluarga
Asrorul Mais: Dari Keterbatasan Menuju Wakil Rektor, Menggerakkan Pendidikan Inklusi
Dari Hobi Ngopi Jadi Cuan: Coffee Shop Rumahan Pasutri Blitar Laris via Medsos

Berita Terkait

Rabu, 28 Januari 2026 - 17:16 WIB

33 Coffee and Go Tumbuh dari Ketekunan Usaha Lokal

Rabu, 28 Januari 2026 - 16:34 WIB

Merajut Harapan dari Balik Jeruji: Ketika Warga Binaan Menyiapkan Masa Depan

Rabu, 28 Januari 2026 - 15:59 WIB

Menuju Subsidi Tepat Sasaran: Penyesuaian Kuota BBM Tahun 2026

Rabu, 28 Januari 2026 - 15:17 WIB

Industri Kosmetik Berstandar Global Tumbuh dari Desa Rejotangan Tulungagung

Rabu, 28 Januari 2026 - 10:33 WIB

Jaksa Masuk Sekolah di SMPN 1 Ngasem Kediri: Pendidikan Hukum sebagai Proyek Kesadaran Publik

Berita Terbaru

Bisnis

33 Coffee and Go Tumbuh dari Ketekunan Usaha Lokal

Rabu, 28 Jan 2026 - 17:16 WIB

News Update

Menuju Subsidi Tepat Sasaran: Penyesuaian Kuota BBM Tahun 2026

Rabu, 28 Jan 2026 - 15:59 WIB