Mengenal AI Slop, Fenomena yang Disoroti Pimpinan Microsoft

Avatar photo

- Jurnalis

Senin, 5 Januari 2026 - 15:03 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

AZMEDIA — Dalam tiga tahun terakhir, perkembangan kecerdasan buatan generatif telah mengubah lanskap digital dan kehidupan sosial secara signifikan. Teknologi ini, yang ditopang oleh model bahasa berskala besar seperti yang digunakan pada ChatGPT, mampu memproduksi teks kompleks secara mandiri setelah dilatih menggunakan kumpulan data teks dalam jumlah masif.

Namun, adopsi teknologi tersebut secara luas juga memunculkan fenomena baru yang dikenal sebagai AI slop—konten buatan AI berkualitas rendah yang diproduksi secara massal dengan keterlibatan manusia yang sangat minim, bahkan nyaris tanpa kurasi.

Ledakan Konten AI Berkualitas Rendah

Temuan terbaru dari perusahaan pengeditan video Kapwing, sebagaimana dilaporkan media Inggris The Guardian, menunjukkan skala permasalahan ini. Dalam riset tersebut, lebih dari 20 persen video yang pertama kali direkomendasikan kepada pengguna baru melalui algoritma YouTube Shorts tergolong sebagai konten AI berkualitas rendah.

ADVERTISEMENT

banner 480x600

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dari 500 video awal yang dianalisis dalam kondisi algoritma yang belum dipersonalisasi, Kapwing menemukan 104 video dihasilkan oleh AI dan 165 video masuk kategori brainrot. Artinya, lebih dari separuh konten—sekitar 54 persen—dinilai memiliki mutu rendah atau minim nilai informatif.

Kapwing mendefinisikan brainrot sebagai video yang tidak bermakna, berkualitas rendah, dan berpotensi merusak kondisi mental atau intelektual penonton. Sebagian besar konten dalam kategori ini juga diproduksi menggunakan teknologi AI.

Peta Global Kanal AI Slop

Popularitas kanal AI slop tidak merata di setiap negara. Spanyol tercatat memiliki jumlah pelanggan terbesar untuk kanal AI slop, dengan total mencapai lebih dari 20 juta pelanggan. Meski demikian, jumlah kanal AI slop Spanyol yang masuk dalam 100 besar relatif lebih sedikit dibanding negara lain.

Amerika Serikat, misalnya, memiliki sembilan kanal AI slop dalam daftar 100 teratas dengan total pelanggan sekitar 14,4 juta. Fenomena ini menegaskan bahwa produksi dan konsumsi konten AI berkualitas rendah telah menjadi isu global lintas wilayah.

Baca Juga :  The Latest News in R&B Music: A Look at Super Bowl Performances, New Albums, Rising Stars, and Tribute to Aaliyah

Kapwing juga menegaskan bahwa YouTube bukan satu-satunya platform yang terdampak. Konten berbasis AI terus membanjiri media sosial dan cenderung sulit dibendung.

Laporan jurnalis Mashable, Tim Marcin, mencatat bahwa feed media sosial kini dipenuhi video AI—mulai dari hewan fiktif dalam rekaman seolah kamera pengawas hingga mesin berat yang melakukan aktivitas mustahil. Analisis The Guardian bahkan menemukan hampir 10 persen kanal YouTube dengan pertumbuhan tercepat tahun ini sepenuhnya digerakkan oleh konten AI.

Kanal Anak dan Monetisasi Besar

Beberapa kanal AI slop diketahui menargetkan segmen anak-anak. Salah satunya adalah Pouty Frenchie yang berbasis di Singapura, menampilkan kisah seekor bulldog Prancis dalam dunia fantasi seperti hutan permen atau sushi kristal. Kanal ini telah mencatat sekitar 2 miliar penayangan dan diperkirakan menghasilkan hampir US$4 juta per tahun.

Kanal lain, Cuentos Fantásticos asal Amerika Serikat, memiliki lebih dari 6,6 juta pelanggan dan menjadi kanal dengan jumlah pelanggan terbesar dalam studi Kapwing.

Sementara itu, kanal The AI World dari Pakistan menyajikan video AI bertema bencana banjir dengan judul-judul emosional. Konten ini kerap dipadukan dengan audio relaksasi, dan secara total telah mengumpulkan lebih dari 1,3 miliar tayangan.

Industri di Balik AI Slop

Di balik konten-konten ganjil tersebut, terdapat ekosistem semi-terstruktur yang terus berkembang. Banyak kreator dan pelaku digital memanfaatkan alat AI untuk mencari celah monetisasi di platform global.

Max Read, jurnalis yang lama mengamati fenomena ini, menyebut komunitas pembuat konten AI slop aktif berbagi strategi di Telegram, WhatsApp, Discord, hingga forum daring. Tidak sedikit pula yang menjual kursus berbayar tentang cara menciptakan konten viral berbasis AI.

Menurut Read, sebagian besar kreator AI slop berasal dari negara-negara dengan upah menengah dan akses internet yang relatif stabil, seperti India, Nigeria, Kenya, Brasil, Vietnam, hingga Ukraina. Di wilayah-wilayah tersebut, pendapatan dari YouTube kerap melampaui penghasilan lokal.

Meski demikian, Read menekankan bahwa menjadi kreator AI slop bukan tanpa tantangan. Sistem monetisasi YouTube dan Meta dinilai belum transparan, baik soal kriteria pembayaran maupun nilai kompensasi. Selain itu, ekosistem ini juga dipenuhi praktik penipuan, di mana penjual kursus justru memperoleh keuntungan lebih besar daripada kreator kontennya.

Baca Juga :  Libur Lebaran, BPJS Kesehatan Tetap Berikan Layanan JKN

AI dan Dunia Akademik

Dampak AI tidak hanya dirasakan di ranah hiburan, tetapi juga merambah dunia akademik. Studi terbaru dari peneliti UC Berkeley dan Cornell University yang diterbitkan di jurnal Science mengkaji bagaimana AI memengaruhi produktivitas dan kualitas penulisan ilmiah.

Penelitian tersebut menganalisis lebih dari satu juta artikel pra-cetak yang dipublikasikan antara 2018 hingga 2024. Hasilnya menunjukkan bahwa setelah mengadopsi AI, produktivitas penulis meningkat signifikan—antara 36 hingga hampir 60 persen lebih banyak artikel per bulan.

Peningkatan paling besar terjadi pada penulis non-penutur asli bahasa Inggris, khususnya dari Asia. Hal ini mengindikasikan bahwa AI kerap digunakan sebagai alat bantu bahasa.

Namun, temuan menarik muncul terkait kualitas. Artikel berbantuan AI cenderung menggunakan bahasa yang lebih kompleks, tetapi justru memiliki peluang publikasi lebih rendah. Sebaliknya, pada artikel tanpa AI, kompleksitas bahasa berkorelasi positif dengan peluang diterbitkan.

Kesimpulan ini mengindikasikan bahwa bahasa kompleks hasil AI kerap digunakan untuk menutupi lemahnya kontribusi ilmiah.

Tantangan ke Depan

Ke depan, AI dipastikan akan semakin terintegrasi dalam penulisan akademik dan komunikasi profesional. Hal ini menantang paradigma lama yang menilai kualitas ilmiah berdasarkan kompleksitas bahasa semata.

Para peneliti menekankan pentingnya evaluasi metodologi dan substansi penelitian secara lebih mendalam dalam proses peer review. Bahkan, penggunaan alat AI untuk meninjau naskah—seperti yang dikembangkan Andrew Ng di Stanford—mulai dipertimbangkan sebagai solusi realistis di tengah lonjakan jumlah publikasi.

Di tengah derasnya arus konten AI, tantangan terbesar bukan lagi pada keberadaan teknologi itu sendiri, melainkan pada kemampuan manusia dan institusi untuk menyaring kualitas, nilai, dan dampak jangka panjangnya.

Follow WhatsApp Channel azmedia.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

33 Coffee and Go Tumbuh dari Ketekunan Usaha Lokal
Merajut Harapan dari Balik Jeruji: Ketika Warga Binaan Menyiapkan Masa Depan
Menuju Subsidi Tepat Sasaran: Penyesuaian Kuota BBM Tahun 2026
Industri Kosmetik Berstandar Global Tumbuh dari Desa Rejotangan Tulungagung
Jaksa Masuk Sekolah di SMPN 1 Ngasem Kediri: Pendidikan Hukum sebagai Proyek Kesadaran Publik
Ekonomi Mikro Tetap Berputar: Jasa Permak Kenayan Tulungagung Masih Ramai
Rofian: Dari Penjual Jamu Keliling Menjadi Pengacara, Mengangkat Derajat Keluarga
Asrorul Mais: Dari Keterbatasan Menuju Wakil Rektor, Menggerakkan Pendidikan Inklusi

Berita Terkait

Rabu, 28 Januari 2026 - 17:16 WIB

33 Coffee and Go Tumbuh dari Ketekunan Usaha Lokal

Rabu, 28 Januari 2026 - 16:34 WIB

Merajut Harapan dari Balik Jeruji: Ketika Warga Binaan Menyiapkan Masa Depan

Rabu, 28 Januari 2026 - 15:59 WIB

Menuju Subsidi Tepat Sasaran: Penyesuaian Kuota BBM Tahun 2026

Rabu, 28 Januari 2026 - 15:17 WIB

Industri Kosmetik Berstandar Global Tumbuh dari Desa Rejotangan Tulungagung

Rabu, 28 Januari 2026 - 10:33 WIB

Jaksa Masuk Sekolah di SMPN 1 Ngasem Kediri: Pendidikan Hukum sebagai Proyek Kesadaran Publik

Berita Terbaru

Bisnis

33 Coffee and Go Tumbuh dari Ketekunan Usaha Lokal

Rabu, 28 Jan 2026 - 17:16 WIB

News Update

Menuju Subsidi Tepat Sasaran: Penyesuaian Kuota BBM Tahun 2026

Rabu, 28 Jan 2026 - 15:59 WIB