Ketika Kepentingan Negara Berwujud Sebagai Krisis Akuntabilitas

Avatar photo

- Jurnalis

Selasa, 30 Desember 2025 - 17:28 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto Eko Puguh & Yustin Eka Rusdiana

Foto Eko Puguh & Yustin Eka Rusdiana

Tulungagung. AZMEDIA INDONESIA – Dalam simfoni kebijakan publik yang kini terguncang di Kabupaten Tulungagung, pembacaan terhadap dokumen administrasi fiskal berubah menjadi kritik tajam atas rasionalitas kekuasaan lokal. Hanya beberapa hari setelah publik dihebohkan AZMEDIA  yang melontarkan pertanyaan kritis atas akuntabilitas pengelolaan anggaran daerah — Kini sebuah Surat Terbuka Masyarakat Sipil lainnya menyeruak ke dalam arus dominan diskursus politik lokal. Langkah ini menandai eskalasi problem struktural yang tak dapat lagi dibaca semata sebagai dinamika internal pemerintahan, tetapi sebagai refleksi mendalam atas hukum dan etika administrasi publik.

adalah transformasi konflik administratif menjadi perdebatan normatif yang berakar pada prinsip akuntabilitas pejabat publik. Permintaan klarifikasi yang dilayangkan AZMEDIA Corpora, dalam kapasitas profesional Yustin sebagai Wartawan Utama Bersertifikat Nasional, membuka tabir pertanggungjawaban kebijakan dalam implementasi APBD Tulungagung TA 2023–2024. Surat tersebut menuntut penjelasan faktual atas keputusan keuangan yang berkaitan dengan penyusunan APBD, kontrol terhadap DPA dan kas daerah, serta tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan — yakni simpul-simpul di mana kebijakan bertemu konsekuensi publik.

kini melampaui sekadar elit birokrasi. Di panggung ini berdiri Yustin, bukan sekadar sebagai jurnalis, tetapi sebagai agen kontrol sosial yang menuntut pejabat publik menyikapi kewenangan mereka dengan konformitas terhadap norma hukum dan etika pemerintahan.

ADVERTISEMENT

banner 480x600

SCROLL TO RESUME CONTENT

Di sisi lain, masyarakat sipil yang menyodorkan Surat Terbuka menempatkan Bupati dan Wakil Bupati bukan sebagai figur simbolik, melainkan sebagai locus tanggung jawab atas disfungsi peran kepemimpinan di ruang kebijakan lokal.

Baca Juga :  Penjelasan KPU soal Aturan Pengumuman Hasil Hitung Cepat Pemilu di Luar Negeri

Masukan ini merangkum kontestasi antara dua kutub kekuasaan: birokrasi yang sering kali sibuk memproduksi lintas keputusan teknokratis, dan publik yang mendesak pertanggungjawaban etis di balik setiap angka anggaran yang diklaim sebagai manifestasi rasionalitas negara.

surat-surat ini bermunculan jelas bukan kebetulan: mendekati akhir tahun anggaran merupakan fase evaluatif dan ritualistik bagi setiap pemerintahan daerah. Namun ironinya, di saat siklus fiskal ditutup, celah pertanyaan etis malah dibuka selebar-lebarnya. Kedua dokumen administrasi ini — dari media hingga masyarakat sipil — muncul dalam rentang waktu yang hampir bersamaan, memformalkan kritik terhadap praktik pengelolaan kekuasaan fiskal pada momentum simbolik yang sangat signifikan.

konflik ini berlangsung ialah di ruang administratif formal Tulungagung: Kantor Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah, Pendopo Kabupaten, dan arena publik lain yang menjadi panggung menegaknya legitimasi birokrasi. Namun resonansinya melampaui batas administratif daerah, karena problematika ini menggemakan pertanyaan sahih tentang bagaimana kekuasaan fiskal dibingkai, ditafsir, dan dipertanggungjawabkan dalam tatanan negara kesatuan.

persoalan ini penting bukan sekadar soal teks surat klarifikasi atau pemberitaan tajam. Ia berakar pada ketegangan mendasar antara kewenangan dan akuntabilitas, antara power dan responsibility. Permintaan klarifikasi yang diajukan oleh AZMEDIA tak hanya menuntut transparansi administratif; ia memaksa kita menguji ulang peran pejabat publik dalam arti etis dan hukum, sebagaimana dituntut oleh UU Administrasi Pemerintahan, UU Pengelolaan Keuangan Daerah, dan ketentuan pemeriksaan negara. Dengan demikian, problem ini melintasi ranah teknis ke ranah normatif, menantang subsidi legitimasi birokrasi atas dasar prosedur semata.

Baca Juga :  Penyerahan Sertifikat Peserta PTSL Kabupaten Kediri - AZMEDIA

fenomena ini mengemuka adalah tindakan reflektif atas kegagalan struktur birokrasi menanggapi pertanyaan publik yang sahih. Ketika rasionalitas teknokratis dalam penyusunan anggaran diklaim sebagai pilar profesionalisme administratif, ironisnya mekanisme pertanggungjawaban etis yang melekat pada setiap pengambilan keputusan sering kali dipandang sebagai formalitas yang dapat diabaikan. Kritik ini menunjukkan bahwa legitimasi kekuasaan fiskal tidak berhenti pada kepatuhan administratif, tetapi mesti diuji melalui akuntabilitas faktual dan keterbukaan substansial.

Dalam bingkai kebijakan publik, konflik ini bukan sekadar berita; ia adalah simptom dari kegagalan sistematis yang menempatkan jargon hukum di atas praktik pemerintahan yang hakiki. Oleh karena itu, pergulatan antara tuntutan akuntabilitas etis dan dominasi kekuasaan teknokratis ini menjadi ujian epistemik mutlak bagi siapa pun yang mendaku dirinya sebagai penjaga amanah publik.


Catatan Redaksi: Apabila ada pihak yang merasa dirugikan dan/atau keberatan dengan penayangan artikel dan/atau berita tersebut di atas, Anda dapat mengirimkan artikel dan/atau berita berisi sanggahan dan/atau koreksi kepada Redaksi kami,sebagaimana diatur dalam Pasal 1 ayat (11) dan (12)Undang-Undang Nomor 40 tahun 1999 tentang Pers.

Sanggahan dan/atau klarifikasi dapat disampaikan kepada Redaksi AZMEDIA INDONESIA melalui:
📧 redaksi@azmedia.co.id
📱 WhatsApp: +62 816-5133-39

Follow WhatsApp Channel azmedia.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

33 Coffee and Go Tumbuh dari Ketekunan Usaha Lokal
Merajut Harapan dari Balik Jeruji: Ketika Warga Binaan Menyiapkan Masa Depan
Menuju Subsidi Tepat Sasaran: Penyesuaian Kuota BBM Tahun 2026
Industri Kosmetik Berstandar Global Tumbuh dari Desa Rejotangan Tulungagung
Jaksa Masuk Sekolah di SMPN 1 Ngasem Kediri: Pendidikan Hukum sebagai Proyek Kesadaran Publik
Ekonomi Mikro Tetap Berputar: Jasa Permak Kenayan Tulungagung Masih Ramai
Rofian: Dari Penjual Jamu Keliling Menjadi Pengacara, Mengangkat Derajat Keluarga
Asrorul Mais: Dari Keterbatasan Menuju Wakil Rektor, Menggerakkan Pendidikan Inklusi

Berita Terkait

Rabu, 28 Januari 2026 - 17:16 WIB

33 Coffee and Go Tumbuh dari Ketekunan Usaha Lokal

Rabu, 28 Januari 2026 - 16:34 WIB

Merajut Harapan dari Balik Jeruji: Ketika Warga Binaan Menyiapkan Masa Depan

Rabu, 28 Januari 2026 - 15:59 WIB

Menuju Subsidi Tepat Sasaran: Penyesuaian Kuota BBM Tahun 2026

Rabu, 28 Januari 2026 - 15:17 WIB

Industri Kosmetik Berstandar Global Tumbuh dari Desa Rejotangan Tulungagung

Rabu, 28 Januari 2026 - 10:33 WIB

Jaksa Masuk Sekolah di SMPN 1 Ngasem Kediri: Pendidikan Hukum sebagai Proyek Kesadaran Publik

Berita Terbaru

Bisnis

33 Coffee and Go Tumbuh dari Ketekunan Usaha Lokal

Rabu, 28 Jan 2026 - 17:16 WIB

News Update

Menuju Subsidi Tepat Sasaran: Penyesuaian Kuota BBM Tahun 2026

Rabu, 28 Jan 2026 - 15:59 WIB