Kasus Getok Harga Kembali Terjadi di Telaga Sarangan, Wisatawan Merasa Dirugikan

Avatar photo

- Jurnalis

Sabtu, 10 Januari 2026 - 15:58 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

AZMEDIA – Praktik dugaan getok harga kembali mencuat di kawasan wisata Telaga Sarangan, Kabupaten Magetan. Peristiwa tersebut memicu reaksi publik setelah keluhan wisatawan viral di media sosial dan dinilai berpotensi merusak citra pariwisata Jawa Timur.

Sorotan bermula dari unggahan akun Facebook Agus Suyono, seorang pemilik agen perjalanan asal Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Dalam unggahannya, Agus menceritakan pengalaman kurang menyenangkan saat mendampingi rombongan wisatawan berkunjung ke Telaga Sarangan pada 3 Januari 2026.

Agus menuturkan, insiden itu terjadi ketika dirinya bersama sekitar 20 orang wisatawan tengah menunggu jadwal perjalanan lanjutan ke destinasi lain. Ia kemudian mengajak rombongan singgah di sebuah rumah makan bernama Primarasa, sekadar untuk minum dan mengisi waktu.

ADVERTISEMENT

banner 480x600

SCROLL TO RESUME CONTENT

Namun, niat beristirahat sejenak justru berujung kekecewaan. Agus mengaku terkejut setelah menerima tagihan yang nilainya hampir Rp600 ribu, meski konsumsi rombongan tergolong sederhana.

“Saya hanya pesan kopi, ada yang minum jahe, sebagian makan mi instan dan bakso. Tapi totalnya hampir enam ratus ribu rupiah,” ujar Agus saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon, Rabu (7/1/2026).

Harga Dinilai Tidak Wajar

Menurut Agus, nominal yang harus dibayar jauh di atas harga normal, bahkan jika dibandingkan dengan standar harga di kawasan wisata. Ia mencontohkan harga kopi sachet yang dijual hingga Rp20 ribu, padahal harga beli produk tersebut hanya sekitar Rp1.500.

Baca Juga :  Siap Berkontestasi pada Pilkada 2024, Banteng Tulungagung Lakukan Penguatan Internal

“Kalau dipatok Rp10 ribu atau Rp15 ribu mungkin masih bisa dimaklumi karena ini tempat wisata. Tapi kalau sampai segitu, jelas memberatkan,” ungkapnya.

Agus juga menyebut, dirinya bukan kali pertama singgah di tempat tersebut. Bahkan, ia mengaku telah lebih dari sepuluh kali membawa rombongan wisatawan mampir ke lokasi yang sama. Namun, baru kali ini ia merasa dirugikan secara signifikan.

Hal lain yang disesalkan adalah tidak adanya daftar harga yang terpampang di warung tersebut. Kondisi itu membuat wisatawan tidak memiliki acuan harga sejak awal sebelum memesan.

Pedagang Kecil Dinilai Lebih Terbuka

Ironisnya, Agus justru menilai pelaku usaha kecil di sekitar Telaga Sarangan lebih transparan dalam menetapkan harga. Penjual sate kelinci, sate ayam, hingga penyedia wahana wisata seperti kuda tunggang dan perahu wisata dinilainya memasang tarif yang jelas.

“Pedagang kecil pasang harga, jadi wisatawan bisa memilih. Justru restoran besar yang tidak mencantumkan harga, ini yang rawan merugikan,” katanya.

Baca Juga :  Sejarah dan Masa Depan Teknologi: Dari Era Komputer 1940 hingga Revolusi AI 2035

Ingatan dari Disparbud Magetan

Kasus ini pun mendapat perhatian dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Magetan. Pihak dinas mengakui bahwa praktik getok harga di kawasan Telaga Sarangan bukan kejadian baru.

Kepala Bidang Pengelolaan Pariwisata Disparbud Magetan, Eka Radityya, menyatakan bahwa laporan serupa pernah diterima sebelumnya, bahkan di lokasi yang sama.

“Kami sudah beberapa kali mengingatkan pelaku usaha. Surat edaran juga sudah dikeluarkan agar rumah makan dan restoran mencantumkan daftar harga serta menerapkan tarif yang wajar,” jelasnya.

Menurut Eka, transparansi harga menjadi salah satu kunci dalam menjaga kenyamanan wisatawan sekaligus mempertahankan citra Telaga Sarangan sebagai destinasi unggulan.

Imbauan untuk Wisatawan

Selain menegaskan komitmen pembinaan terhadap pelaku usaha, Disparbud Magetan juga mengimbau wisatawan agar lebih teliti sebelum melakukan transaksi.

“Kalau harganya tidak jelas atau dirasa di luar kewajaran, sebaiknya ditanyakan dulu atau tidak dilanjutkan,” ujarnya.

Meski demikian, Disparbud Magetan memastikan akan melakukan evaluasi menyeluruh menyusul viralnya kasus tersebut. Langkah ini diharapkan dapat mencegah kejadian serupa terulang dan memulihkan kepercayaan wisatawan terhadap Telaga Sarangan sebagai salah satu tujuan wisata favorit di Jawa Timur.

Follow WhatsApp Channel azmedia.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

33 Coffee and Go Tumbuh dari Ketekunan Usaha Lokal
Merajut Harapan dari Balik Jeruji: Ketika Warga Binaan Menyiapkan Masa Depan
Menuju Subsidi Tepat Sasaran: Penyesuaian Kuota BBM Tahun 2026
Industri Kosmetik Berstandar Global Tumbuh dari Desa Rejotangan Tulungagung
Jaksa Masuk Sekolah di SMPN 1 Ngasem Kediri: Pendidikan Hukum sebagai Proyek Kesadaran Publik
Ekonomi Mikro Tetap Berputar: Jasa Permak Kenayan Tulungagung Masih Ramai
Rofian: Dari Penjual Jamu Keliling Menjadi Pengacara, Mengangkat Derajat Keluarga
Asrorul Mais: Dari Keterbatasan Menuju Wakil Rektor, Menggerakkan Pendidikan Inklusi

Berita Terkait

Rabu, 28 Januari 2026 - 17:16 WIB

33 Coffee and Go Tumbuh dari Ketekunan Usaha Lokal

Rabu, 28 Januari 2026 - 16:34 WIB

Merajut Harapan dari Balik Jeruji: Ketika Warga Binaan Menyiapkan Masa Depan

Rabu, 28 Januari 2026 - 15:59 WIB

Menuju Subsidi Tepat Sasaran: Penyesuaian Kuota BBM Tahun 2026

Rabu, 28 Januari 2026 - 15:17 WIB

Industri Kosmetik Berstandar Global Tumbuh dari Desa Rejotangan Tulungagung

Rabu, 28 Januari 2026 - 10:33 WIB

Jaksa Masuk Sekolah di SMPN 1 Ngasem Kediri: Pendidikan Hukum sebagai Proyek Kesadaran Publik

Berita Terbaru

Bisnis

33 Coffee and Go Tumbuh dari Ketekunan Usaha Lokal

Rabu, 28 Jan 2026 - 17:16 WIB

News Update

Menuju Subsidi Tepat Sasaran: Penyesuaian Kuota BBM Tahun 2026

Rabu, 28 Jan 2026 - 15:59 WIB