Industri Kosmetik Berstandar Global Tumbuh dari Desa Rejotangan Tulungagung

Avatar photo

- Jurnalis

Rabu, 28 Januari 2026 - 15:17 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

AZMEDIA | Tulungagung — Di tengah dominasi kawasan perkotaan sebagai pusat industri, sebuah pabrik kosmetik berstandar internasional justru tumbuh dan berkembang dari wilayah pedesaan. Berlokasi di Kecamatan Rejotangan, Kabupaten Tulungagung, perusahaan maklon kosmetik milik Filia membuktikan bahwa desa mampu menjadi bagian penting dalam rantai industri global.

Perusahaan yang bernaung di bawah Mash Moshem tersebut bergerak di bidang jasa produksi kosmetik untuk pemilik merek. Melalui sistem maklon, perusahaan ini telah memproduksi ribuan merek, baik dari dalam negeri maupun luar negeri, dengan berbagai kategori produk.

Pilihan mendirikan pabrik di Tulungagung bukan sekadar pertimbangan teknis. Bagi Filia, langkah tersebut merupakan bentuk keterikatan emosional dengan daerah asal sekaligus upaya menciptakan dampak ekonomi nyata bagi masyarakat lokal.

ADVERTISEMENT

banner 480x600

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Sebagai putra daerah, saya ingin usaha ini tumbuh bersama wilayah kelahiran saya,” ungkap Filia.

Dari sisi bisnis, lokasi desa justru memberikan efisiensi yang signifikan. Biaya operasional yang lebih terkendali memungkinkan perusahaan menekan harga pokok produksi tanpa menurunkan kualitas, sehingga klien memiliki daya saing lebih kuat di pasar.

Baca Juga :  Kapolres Kediri AKBP Agung Setyo Nugroho S.I.K memimpin upacara serah terima jabatan Kasat Reskrim, 5 Kapolsek serta pengukuhan Kasi Propam dan T.I.K.

Selain itu, struktur upah tenaga kerja di Tulungagung dinilai cukup ideal untuk mendukung keberlanjutan industri. Saat ini, perusahaan tersebut mempekerjakan sekitar 300 orang, dengan 150 karyawan bekerja langsung di fasilitas produksi Rejotangan. Mayoritas tenaga kerja berasal dari masyarakat sekitar.

Namun, membangun industri modern di desa bukan tanpa tantangan. Filia menuturkan bahwa investasi pada teknologi, modernisasi mesin, serta penguatan kapasitas sumber daya manusia menjadi proses panjang yang harus dilalui agar mampu bersaing secara nasional.

“Kami fokus pada efisiensi, peningkatan kompetensi SDM, dan kerja tim yang solid. Itu yang membuat industri di daerah bisa tetap kompetitif,” jelasnya.

Hingga kini, perusahaan maklon tersebut telah bekerja sama dengan sekitar 1.700 merek dan memproduksi lebih dari 7.000 varian produk, mulai dari body care, makeup, baby care, hingga produk perawatan pria. Beberapa klien bahkan berasal dari luar negeri, dengan standar produksi yang disesuaikan dengan regulasi internasional.

Baca Juga :  Langkah Mudah Backup ke Google Drive

Menurut Filia, model maklon membuka peluang besar bagi pelaku usaha baru. Dengan sistem ini, pengusaha tidak perlu membangun pabrik atau mengurus perizinan produksi secara mandiri, sehingga modal awal bisa ditekan.

“Modal relatif terjangkau sudah cukup untuk memulai brand sendiri. Kami juga mendampingi klien agar usahanya bisa berkembang,” ujarnya.

Pandangan tersebut sejalan dengan pendapat Helmy Yahya yang menilai industri kosmetik nasional masih memiliki potensi pertumbuhan besar. Ia menyebut, banyak merek besar justru tidak memproduksi sendiri, melainkan mempercayakan proses produksi kepada perusahaan maklon yang memiliki keahlian dan riset memadai.

“Dengan begitu, pemilik merek bisa fokus pada pemasaran dan pengembangan pasar,” katanya.

Kehadiran industri kosmetik berskala global di Rejotangan menjadi contoh bahwa pembangunan ekonomi tidak harus selalu berpusat di kota besar. Desa, dengan pengelolaan yang tepat, dapat menjadi motor pertumbuhan industri sekaligus ruang pemberdayaan masyarakat.

Follow WhatsApp Channel azmedia.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

33 Coffee and Go Tumbuh dari Ketekunan Usaha Lokal
Merajut Harapan dari Balik Jeruji: Ketika Warga Binaan Menyiapkan Masa Depan
Menuju Subsidi Tepat Sasaran: Penyesuaian Kuota BBM Tahun 2026
Jaksa Masuk Sekolah di SMPN 1 Ngasem Kediri: Pendidikan Hukum sebagai Proyek Kesadaran Publik
Ekonomi Mikro Tetap Berputar: Jasa Permak Kenayan Tulungagung Masih Ramai
Rofian: Dari Penjual Jamu Keliling Menjadi Pengacara, Mengangkat Derajat Keluarga
Asrorul Mais: Dari Keterbatasan Menuju Wakil Rektor, Menggerakkan Pendidikan Inklusi
Belanja Lokal, Dampak Besar: Pasar Senggol Bangoan Gerakkan UMKM Kuliner Tradisional

Berita Terkait

Rabu, 28 Januari 2026 - 17:16 WIB

33 Coffee and Go Tumbuh dari Ketekunan Usaha Lokal

Rabu, 28 Januari 2026 - 16:34 WIB

Merajut Harapan dari Balik Jeruji: Ketika Warga Binaan Menyiapkan Masa Depan

Rabu, 28 Januari 2026 - 15:59 WIB

Menuju Subsidi Tepat Sasaran: Penyesuaian Kuota BBM Tahun 2026

Rabu, 28 Januari 2026 - 15:17 WIB

Industri Kosmetik Berstandar Global Tumbuh dari Desa Rejotangan Tulungagung

Rabu, 28 Januari 2026 - 10:33 WIB

Jaksa Masuk Sekolah di SMPN 1 Ngasem Kediri: Pendidikan Hukum sebagai Proyek Kesadaran Publik

Berita Terbaru

Bisnis

33 Coffee and Go Tumbuh dari Ketekunan Usaha Lokal

Rabu, 28 Jan 2026 - 17:16 WIB

News Update

Menuju Subsidi Tepat Sasaran: Penyesuaian Kuota BBM Tahun 2026

Rabu, 28 Jan 2026 - 15:59 WIB