AZMEDIA | Tulungagung — Di tengah dominasi kawasan perkotaan sebagai pusat industri, sebuah pabrik kosmetik berstandar internasional justru tumbuh dan berkembang dari wilayah pedesaan. Berlokasi di Kecamatan Rejotangan, Kabupaten Tulungagung, perusahaan maklon kosmetik milik Filia membuktikan bahwa desa mampu menjadi bagian penting dalam rantai industri global.
Perusahaan yang bernaung di bawah Mash Moshem tersebut bergerak di bidang jasa produksi kosmetik untuk pemilik merek. Melalui sistem maklon, perusahaan ini telah memproduksi ribuan merek, baik dari dalam negeri maupun luar negeri, dengan berbagai kategori produk.
Pilihan mendirikan pabrik di Tulungagung bukan sekadar pertimbangan teknis. Bagi Filia, langkah tersebut merupakan bentuk keterikatan emosional dengan daerah asal sekaligus upaya menciptakan dampak ekonomi nyata bagi masyarakat lokal.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Sebagai putra daerah, saya ingin usaha ini tumbuh bersama wilayah kelahiran saya,” ungkap Filia.
Dari sisi bisnis, lokasi desa justru memberikan efisiensi yang signifikan. Biaya operasional yang lebih terkendali memungkinkan perusahaan menekan harga pokok produksi tanpa menurunkan kualitas, sehingga klien memiliki daya saing lebih kuat di pasar.
Selain itu, struktur upah tenaga kerja di Tulungagung dinilai cukup ideal untuk mendukung keberlanjutan industri. Saat ini, perusahaan tersebut mempekerjakan sekitar 300 orang, dengan 150 karyawan bekerja langsung di fasilitas produksi Rejotangan. Mayoritas tenaga kerja berasal dari masyarakat sekitar.
Namun, membangun industri modern di desa bukan tanpa tantangan. Filia menuturkan bahwa investasi pada teknologi, modernisasi mesin, serta penguatan kapasitas sumber daya manusia menjadi proses panjang yang harus dilalui agar mampu bersaing secara nasional.
“Kami fokus pada efisiensi, peningkatan kompetensi SDM, dan kerja tim yang solid. Itu yang membuat industri di daerah bisa tetap kompetitif,” jelasnya.
Hingga kini, perusahaan maklon tersebut telah bekerja sama dengan sekitar 1.700 merek dan memproduksi lebih dari 7.000 varian produk, mulai dari body care, makeup, baby care, hingga produk perawatan pria. Beberapa klien bahkan berasal dari luar negeri, dengan standar produksi yang disesuaikan dengan regulasi internasional.
Menurut Filia, model maklon membuka peluang besar bagi pelaku usaha baru. Dengan sistem ini, pengusaha tidak perlu membangun pabrik atau mengurus perizinan produksi secara mandiri, sehingga modal awal bisa ditekan.
“Modal relatif terjangkau sudah cukup untuk memulai brand sendiri. Kami juga mendampingi klien agar usahanya bisa berkembang,” ujarnya.
Pandangan tersebut sejalan dengan pendapat Helmy Yahya yang menilai industri kosmetik nasional masih memiliki potensi pertumbuhan besar. Ia menyebut, banyak merek besar justru tidak memproduksi sendiri, melainkan mempercayakan proses produksi kepada perusahaan maklon yang memiliki keahlian dan riset memadai.
“Dengan begitu, pemilik merek bisa fokus pada pemasaran dan pengembangan pasar,” katanya.
Kehadiran industri kosmetik berskala global di Rejotangan menjadi contoh bahwa pembangunan ekonomi tidak harus selalu berpusat di kota besar. Desa, dengan pengelolaan yang tepat, dapat menjadi motor pertumbuhan industri sekaligus ruang pemberdayaan masyarakat.













