Digitalisasi Retribusi Pasar Tulungagung: Antara Transparansi, Keadilan, dan Tantangan Pedagang Kecil

Avatar photo

- Jurnalis

Jumat, 23 Januari 2026 - 17:10 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

TULUNGAGUNG, AZMEDIA — Digitalisasi layanan publik kini merambah pasar tradisional. Di Tulungagung, pemungutan retribusi pasar mulai diarahkan semakin luas ke sistem e-retribusi, sebuah skema pembayaran elektronik yang membuat transaksi tercatat dan mudah ditelusuri. Pemerintah daerah menyiapkan perluasan pengguna hingga ribuan pedagang pada 2026 sebagai bagian dari penataan penerimaan daerah sekaligus perbaikan layanan pasar.

Mengapa e-retribusi dianggap penting?

Selama bertahun-tahun, retribusi pasar identik dengan model manual: petugas menarik harian, pedagang membayar tunai, lalu pencatatan bergantung pada disiplin administrasi di lapangan. Dalam sistem seperti ini, masalah yang sering muncul bukan hanya soal “besar-kecilnya” setoran, tetapi ketidakseragaman data—siapa pedagang aktif, siapa yang pindah lapak, siapa yang tidak lagi berjualan—yang akhirnya menyulitkan pengelola menyusun kebijakan pasar berbasis fakta.

E-retribusi menawarkan pendekatan berbeda: transaksi terekam, rekap otomatis, dan secara teori mengurangi ruang “abu-abu” dalam pemungutan. Karena itu, perluasan e-retribusi dipandang sebagai pintu masuk menuju tata kelola pasar yang lebih tertib.

Target besar, tetapi tidak semua pasar sama

Tantangan e-retribusi di pasar tradisional bukan pada teknologi semata, melainkan karakter pedagang. Beberapa pasar memiliki pedagang tetap dengan kios/los yang jelas; di titik seperti ini, pendataan dan penerapan e-retribusi relatif lebih mudah. Namun ada pula pasar yang diisi pedagang musiman atau berpindah-pindah (tidak menetap). Untuk tipe ini, sistem digital yang membutuhkan identitas dan pencatatan rutin bisa lebih rumit bila tidak disertai skema khusus.

Karena itu, implementasi yang efektif biasanya tidak “satu resep untuk semua”. Pengelola perlu membedakan pendekatan: pedagang grosir dan pedagang tetap bisa didorong penuh ke e-retribusi, sedangkan pedagang non-tetap memerlukan desain pendataan dan mekanisme pemungutan yang lebih fleksibel.

Pengawasan: kunci agar tidak sekadar ganti alat

Digitalisasi sering gagal bukan karena aplikasinya jelek, tetapi karena kontrolnya longgar. Tulungagung disebut menyiapkan penguatan pengawasan melalui aplikasi pemantau dengan alokasi anggaran tersendiri. Ini langkah penting: ketika sistem makin digital, pengawasan juga harus naik kelas—termasuk audit berkala, jejak transaksi yang mudah diperiksa, dan kanal pengaduan pedagang yang benar-benar responsif.

Baca Juga :  Polisi Gercep, Pelaku Pembunuhan di Sedati Sidoarjo Berhasil Ditangkap

Keadilan bagi pedagang: yang paling menentukan dukungan

Di lapangan, pedagang umumnya mendukung kebijakan yang memberi rasa adil dan manfaat langsung. E-retribusi akan lebih mudah diterima jika:

  • mekanismenya sederhana (tidak bikin antre panjang),

  • ada pendampingan bagi pedagang yang tidak terbiasa transaksi digital,

  • dan yang paling penting: pedagang melihat dampaknya dalam bentuk layanan pasar (kebersihan, penerangan, keamanan, perbaikan fasilitas).

Tanpa itu, e-retribusi berisiko dipersepsi hanya sebagai “cara baru menarik pungutan” tanpa perbaikan yang terasa.

E-retribusi di pasar Tulungagung adalah peluang untuk membangun pasar tradisional yang lebih modern tanpa kehilangan ruhnya sebagai ruang ekonomi rakyat. Namun keberhasilan tidak ditentukan oleh target semata, melainkan oleh detail implementasi: klasifikasi pasar, pendampingan pedagang kecil, disiplin pengawasan, dan transparansi pemanfaatan dana retribusi. Jika empat hal itu berjalan, digitalisasi retribusi bisa menjadi langkah kecil yang berdampak besar bagi kepercayaan publik terhadap pengelolaan pasar.

Follow WhatsApp Channel azmedia.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

33 Coffee and Go Tumbuh dari Ketekunan Usaha Lokal
Merajut Harapan dari Balik Jeruji: Ketika Warga Binaan Menyiapkan Masa Depan
Menuju Subsidi Tepat Sasaran: Penyesuaian Kuota BBM Tahun 2026
Industri Kosmetik Berstandar Global Tumbuh dari Desa Rejotangan Tulungagung
Jaksa Masuk Sekolah di SMPN 1 Ngasem Kediri: Pendidikan Hukum sebagai Proyek Kesadaran Publik
Ekonomi Mikro Tetap Berputar: Jasa Permak Kenayan Tulungagung Masih Ramai
Rofian: Dari Penjual Jamu Keliling Menjadi Pengacara, Mengangkat Derajat Keluarga
Asrorul Mais: Dari Keterbatasan Menuju Wakil Rektor, Menggerakkan Pendidikan Inklusi

Berita Terkait

Rabu, 28 Januari 2026 - 17:16 WIB

33 Coffee and Go Tumbuh dari Ketekunan Usaha Lokal

Rabu, 28 Januari 2026 - 16:34 WIB

Merajut Harapan dari Balik Jeruji: Ketika Warga Binaan Menyiapkan Masa Depan

Rabu, 28 Januari 2026 - 15:59 WIB

Menuju Subsidi Tepat Sasaran: Penyesuaian Kuota BBM Tahun 2026

Rabu, 28 Januari 2026 - 15:17 WIB

Industri Kosmetik Berstandar Global Tumbuh dari Desa Rejotangan Tulungagung

Rabu, 28 Januari 2026 - 10:33 WIB

Jaksa Masuk Sekolah di SMPN 1 Ngasem Kediri: Pendidikan Hukum sebagai Proyek Kesadaran Publik

Berita Terbaru

Bisnis

33 Coffee and Go Tumbuh dari Ketekunan Usaha Lokal

Rabu, 28 Jan 2026 - 17:16 WIB

News Update

Menuju Subsidi Tepat Sasaran: Penyesuaian Kuota BBM Tahun 2026

Rabu, 28 Jan 2026 - 15:59 WIB