AZMEDIA– Pemerintah Desa Kunjang, Kabupaten Kediri, terus mendorong kemandirian ekonomi warganya melalui penguatan sumber Pendapatan Asli Desa (PADes). Dua langkah yang kini menjadi perhatian adalah optimalisasi pengelolaan pasar desa serta pengembangan unit peternakan kambing yang dijalankan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).
Unit peternakan ini dikelola BUMDes Rukun Santoso dan mulai berjalan sekitar dua bulan terakhir. Sampai saat ini, populasi ternak di kandang desa tersebut sudah menembus lebih dari 60 ekor, terdiri dari kambing etawa dan domba.
Perangkat desa setempat, Gendo Santoso, menjelaskan bahwa desa memiliki beberapa sumber pemasukan yang terus diperkuat. Selain Tanah Kas Desa (TKD) dan Pasar Kunjang, kini ada tambahan sumber baru dari sektor peternakan yang diharapkan memberi kontribusi signifikan bagi PADes.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam pelaksanaannya, BUMDes tidak berjalan sendiri. Pengelola menggandeng warga yang sudah berpengalaman beternak agar manajemen pemeliharaan lebih terarah. Fasilitas kandang dibangun di atas lahan sekitar 1.400 meter persegi. Programnya tidak hanya mengejar hasil cepat lewat penggemukan, tetapi juga menyiapkan skema breeding (pengembangbiakan) supaya usaha bisa berkelanjutan.
Selain peternakan, Pasar Kunjang masih menjadi penyokong pemasukan terbesar. Dalam sebulan, pemasukan dari pasar disebut bisa mencapai sekitar Rp 25 juta. Pasar ini telah dikelola pemerintah desa sejak era 1970-an, sementara secara sejarah keberadaannya tercatat sudah ada sejak tahun 1924.
Aktivitas jual-beli di Pasar Kunjang dikenal padat. Area pasar menampung ratusan titik dagang—mulai dari kios permanen hingga lapak nonpermanen. Pedagangnya tidak hanya warga Desa Kunjang, tetapi juga datang dari berbagai wilayah sekitar. Retribusi harian diberlakukan sekitar Rp 2.000–Rp 3.000, menyesuaikan posisi tempat berjualan.
Pengelolaan pasar juga membuka ruang kerja bagi warga. Setidaknya ada enam petugas/karyawan pasar yang bertugas di bawah naungan pemerintah desa, dengan pembiayaan gaji bersumber dari hasil pengelolaan pasar.
Menariknya, denyut ekonomi pasar berlangsung sejak dini hari. Sejumlah pedagang sudah mulai beraktivitas sejak sekitar pukul 02.00, disusul lalu lintas kendaraan pengangkut barang yang ramai keluar-masuk area pasar. Pola ini membuat Pasar Kunjang disebut beroperasi nyaris sepanjang hari.
Upaya Desa Kunjang ini menjadi contoh bagaimana desa dapat membangun “mesin ekonomi” dari potensi lokal: pasar yang ditata produktif dan BUMDes yang mengelola usaha riil. Jika dikelola konsisten dan transparan, model seperti ini berpeluang memperkuat layanan publik desa sekaligus menghadirkan manfaat ekonomi yang lebih merata bagi masyarakat.













