TULUNGAGUNG — Identitas Tulungagung sebagai “Kota Marmer” kembali mendapat energi baru dari pelaku UMKM batu alam. Sejumlah perajin dan bengkel kecil yang selama ini bertumpu pada pesanan lokal, kini mulai berbenah agar produk mereka lebih siap masuk pasar luar kota—bahkan membuka peluang ekspor lewat penguatan desain, standardisasi ukuran, dan pemasaran digital.
Pelaku usaha di sektor ini menilai perubahan selera pasar membuat produk batu alam tidak cukup hanya “kuat dan rapi”, tetapi juga harus memiliki nilai tambah. “Sekarang pembeli cari yang siap pasang, finishing halus, ukurannya presisi, dan desainnya kekinian. Kalau tidak ikut, kita tertinggal,” ujar seorang perajin, Jumat (24/1/2026).
Dari Bahan Mentah ke Produk Siap Jual
Jika dulu banyak UMKM menjual batu alam sebagai bahan, kini mereka mulai mengarah ke produk jadi: mozaik dekoratif, lantai dan dinding panel, cobek dan peralatan dapur, ornamen taman, hingga aksesoris rumah. Dengan model ini, margin usaha bisa lebih baik karena nilai tambah tidak lepas di tengah jalan.
Beberapa UMKM juga mulai membentuk pola kerja bersama: satu unit fokus pemotongan, unit lain finishing, sementara pemasaran dan pengemasan dikerjakan oleh tim yang berbeda. Pola kolaborasi ini membuat produksi lebih stabil dan pesanan besar tidak “mandek” di satu titik.
Standarisasi dan Kualitas Jadi “Tiket Masuk” Pasar Luar
Dalam upaya naik kelas, pelaku UMKM mulai memperhatikan hal-hal yang sering dianggap sepele: ketebalan seragam, warna konsisten, kualitas lem/finishing, hingga cara packing agar tidak retak saat pengiriman. Mereka juga mulai membuat katalog sederhana, daftar ukuran baku, dan foto produk yang layak untuk etalase online.
“Yang berat itu menjaga konsistensi. Sekali kirim jelek, reputasi rusak. Jadi sekarang kami cek ulang sebelum packing,” kata pelaku UMKM lainnya.
Digitalisasi Membuka Pintu Pembeli Baru
Perubahan paling terasa datang dari pemasaran digital. Video proses produksi, testimoni pelanggan, dan foto before-after pemasangan membantu membangun kepercayaan pembeli luar kota. Sebagian UMKM juga mulai mencoba kerja sama dengan reseller interior dan kontraktor kecil di kota-kota besar.
Langkah ini membuat pasar tidak lagi terbatas pada proyek di sekitar Tulungagung. Pesanan mulai merambah ke luar daerah untuk kebutuhan rumah tinggal, kafe, hingga renovasi bangunan.
Kisah UMKM batu alam Tulungagung menunjukkan bahwa naik kelas bukan soal “punya pabrik besar”, tetapi soal keberanian berbenah: memperkuat desain, disiplin kualitas, dan membuka akses pasar melalui kanal digital. Dari bengkel kecil dan tangan-tangan perajin lokal, produk khas Tulungagung punya peluang tampil di etalase yang lebih luas—asal konsisten menjaga standar dan terus belajar membaca pasar.














