AZMEDIA– Kisah Sari Handayani Daulay (39), pelaku usaha asal Kabanjahe, Kabupaten Tanah Karo, Sumatera Utara, menjadi pengingat bahwa langkah kecil bisa berkembang menjadi usaha yang lebih kuat ketika dijalani dengan ketekunan dan keberanian membaca peluang.
Sari mulai merintis usahanya pada 2015. Saat itu ia membuat es buah dan memasarkannya dengan cara sederhana: berkeliling kampung serta menitipkan dagangan di kedai-kedai kecil di sekitar wilayah Karo. Dari aktivitas harian itu, ia menangkap kebutuhan lain di lingkungannya—anak-anak kesulitan mendapatkan mainan karena belum banyak yang menjualnya.
Dari situ, Sari menambah lini usaha dengan menjual mainan anak secara eceran. Ia menyebut, keputusan itu diambil untuk membantu pemasukan keluarga sekaligus menjawab kebutuhan warga sekitar.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Namun, usaha tambahan tersebut tidak langsung mulus. Salah satu kendala yang ia hadapi adalah sistem pembelian dari distributor yang mengharuskan minimal pengambilan agar harga barang lebih murah. Kondisi ini membuat modal menjadi tantangan penting yang sempat menahan laju usahanya.
Perubahan mulai terasa ketika ia bertemu petugas BRI yang melakukan kunjungan ke lingkungan tempat tinggalnya. Dari pertemuan itu, Sari mengenal Kredit Usaha Rakyat (KUR). Ia lalu mencoba mengajukan pembiayaan dan merasa prosesnya tidak serumit yang dibayangkan.
Pada pengajuan awal, Sari memperoleh pinjaman Rp5 juta. Setelah pelunasan, ia kembali mengajukan dan mendapatkan Rp25 juta pada tahap berikutnya. Dana tersebut dimanfaatkannya untuk memperluas usaha, termasuk menambah tenaga kerja dan mengembangkan peluang lain.
Ketika pandemi COVID-19 terjadi, Sari kembali menunjukkan kemampuan beradaptasi. Ia melihat banyak anak membutuhkan pendampingan belajar karena keterbatasan sekolah tatap muka. Dari kebutuhan itu, ia merintis bimbingan belajar. Tidak berhenti di situ, ia juga mengembangkan laundry express yang disebutnya mendapat dukungan pembiayaan hingga Rp100 juta pada 2023.
Saat ini, usaha mainan anak diteruskan oleh adiknya, sementara Sari lebih fokus mengembangkan bimbingan belajar dan layanan laundry yang semakin ramai pelanggan. Ia menilai KUR membantu pelaku usaha seperti dirinya untuk bertumbuh lebih sehat, terutama di masa awal merintis, karena cicilan lebih terukur dibanding sumber pinjaman tidak resmi.
Di sisi lain, pihak BRI menyampaikan bahwa KUR ditujukan untuk mendorong UMKM agar makin produktif, memperkuat sektor riil, serta membuka kesempatan kerja di berbagai daerah. BRI juga menyebut penyaluran KUR hingga Desember 2025 mencapai Rp178,08 triliun kepada 3,8 juta debitur. Penyaluran itu didominasi sektor produksi dengan porsi 64,49%, sementara sektor pertanian menjadi kontributor utama dengan pembiayaan Rp80,09 triliun atau sekitar 44,97% dari total KUR yang disalurkan.
Kisah Sari menjadi contoh bahwa pertumbuhan usaha seringkali lahir dari kombinasi sederhana: peka melihat kebutuhan sekitar, berani mencoba, dan memanfaatkan akses pembiayaan yang lebih aman untuk menggerakkan roda usaha secara bertahap.













