AZMEDIA | Jakarta — Menjelang pergantian tahun 2025 ke 2026, sejumlah pedagang kembang api di Pasar Asemka, Jakarta Barat, mengeluhkan penurunan omzet penjualan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Kondisi ekonomi yang dinilai belum sepenuhnya pulih serta kebijakan pembatasan perayaan kembang api diduga menjadi faktor utama sepinya pembeli.
Salah satu pedagang, Iki, mengaku penjualan kembang api tahun ini jauh dari ekspektasi. Aktivitas jual beli yang biasanya meningkat sejak sepekan sebelum malam tahun baru justru terasa landai.
“Biasa aja sih, cenderung sepi semingguan ini. Padahal biasanya seminggu jelang tahun baru rame yang beli,” ujar Iki saat ditemui, Rabu (31/12).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Berbeda dari pedagang lain, Iki menjual kembang api dalam bentuk paket berisi lima kotak. Untuk ukuran sedang, ia mematok harga Rp20 ribu per paket, sementara ukuran besar dijual Rp35 ribu per paket. Ia membandingkan capaian penjualan tahun lalu yang bisa mencapai 5–10 paket per hari, dengan kondisi tahun ini yang hanya mampu menjual sekitar 2–5 paket per hari.
“Dulu mah sehari bisa 5–10 paket bahkan lebih. Sekarang ya alhamdulillah, 2–5 paket juga sudah disyukuri,” tuturnya.
Selain kembang api, Iki juga menjajakan petasan banting seharga Rp10 ribu untuk tiga kotak, serta petasan ukuran sedang dengan harga Rp30 ribu. Meski demikian, ia mencatat adanya sedikit peningkatan pembeli pada hari terakhir tahun 2025.
“Hari ini lumayan lebih rame dibanding tiga hari kemarin. Mungkin karena sudah hari terakhir, semoga nanti malam bisa lebih laku lagi,” katanya.
Keluhan serupa disampaikan Joni, pedagang kembang api lainnya di lokasi yang sama. Ia menyebut penjualan tahun ini sangat tipis bila dibandingkan periode akhir tahun sebelumnya.
“Kemarin paling laku 10 kotak. Beda jauh banget kalau dibandingkan tahun lalu,” ujar Joni.
Meski penjualan belum menggembirakan, Joni tetap menyimpan harapan pada momen malam pergantian tahun. Ia berharap lonjakan pembeli masih terjadi menjelang tengah malam.
“Doain aja ya, semoga jelang malam nanti bisa lebih banyak yang kebeli,” ucapnya.
Penurunan daya beli yang dirasakan para pedagang kembang api di Pasar Asemka menjadi cerminan tantangan ekonomi yang masih dihadapi masyarakat, sekaligus menandai perubahan pola perayaan tahun baru di ibu kota.













