TULUNGAGUNG — Pasar tradisional sering dianggap “jadul”, tetapi Pasar Senggol di Desa Bangoan, Kecamatan Kedungwaru, justru membuktikan sebaliknya. Setiap pagi, pasar ini menjadi titik temu warga untuk berburu jajanan dan sarapan, sekaligus ruang hidup bagi pelaku UMKM kuliner tradisional yang menggantungkan penghasilan dari lapak-lapak sederhana.
Beragam jajanan pasar tersedia dan menjadi daya tarik utama. Mulai cenil, kicak, lupis, jenang, hingga pilihan makanan berat seperti nasi pecel, rujak, nasi tiwul, dan nasi jagung. Tak hanya jajanan basah, pengunjung juga bisa menemukan aneka camilan kering seperti rempeyek, keripik singkong, serta gorengan yang mudah dijumpai di berbagai sudut pasar.
Lokasinya yang dekat dengan permukiman warga membuat Pasar Senggol mudah diakses. Kondisi ini menjadikan pasar ramai terutama pada jam-jam pagi, ketika warga memanfaatkan waktu untuk belanja harian sambil menikmati suasana pasar tradisional yang hangat dan akrab.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Di balik keramaian itu, ada dampak ekonomi yang nyata. Transaksi kecil—membeli kue basah, sarapan, atau sekadar gorengan—berperan menjaga perputaran uang di tingkat desa. Bagi pedagang, pembeli pagi adalah “napas” usaha: stok harus habis agar modal bisa kembali berputar untuk produksi keesokan harinya.
Pasar Senggol juga menjadi panggung bagi kuliner tradisional agar tetap bertahan. Ketika selera pasar berubah dan makanan modern terus bermunculan, jajanan lokal masih bisa hidup karena ada ruang jual yang setia menerima dan ada pembeli yang terus datang. Dari sini, pasar bukan sekadar tempat belanja, melainkan ekosistem ekonomi rakyat yang menjaga tradisi sekaligus memberi penghidupan.
Pasar Senggol Bangoan mengajarkan satu hal sederhana: belanja lokal punya dampak besar. Datang pagi, membeli secukupnya, dan memilih produk warga sekitar bukan hanya memanjakan lidah—tetapi juga membantu UMKM kuliner tradisional tetap bertahan dan ekonomi desa terus bergerak.













