AZMEDIA | Magetan — Dari balik tembok Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Magetan, lahir karya-karya rajut yang kini menembus pasar luar daerah hingga mancanegara. Tas, dompet, dan aksesori rumah tangga itu bukan sekadar produk kerajinan, melainkan simbol harapan baru bagi para warga binaan yang sedang menjalani masa pidana.
Di balik gerakan sosial tersebut, ada sosok Amandawati—Amanda—seorang pelaku usaha yang memilih mengabdikan keahliannya untuk pemberdayaan warga binaan. Melalui pelatihan merajut, ia membuka ruang belajar sekaligus peluang ekonomi bagi mereka yang kerap dipinggirkan oleh stigma masa lalu.
Aktivitas pelatihan digelar secara rutin di dalam lapas. Puluhan warga binaan, baik perempuan maupun laki-laki, belajar dari tahap paling dasar. Banyak di antara mereka yang baru pertama kali memegang jarum rajut. Prosesnya tidak instan, bahkan sering kali diwarnai kesalahan yang mengharuskan hasil kerja dibongkar dan diulang.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Yang terpenting adalah kesabaran dan kemauan belajar. Kualitas itu dilatih, bukan dibawa sejak lahir,” ujar Amanda saat mendampingi peserta pelatihan.
Keterlibatan Amanda berawal setelah ia pensiun dari dunia perbankan. Sejak 2016, ia mulai berpindah dari satu lapas ke lapas lain—Magetan, Solo, Kediri, Sidoarjo, hingga Rutan Ngawi—memberikan pelatihan sekaligus pendampingan berkelanjutan. Tidak hanya mengajarkan keterampilan produksi, Amanda juga membantu memasarkan hasil karya warga binaan melalui brand miliknya, Ruang Tamu.
Hasilnya, produk rajutan buatan warga binaan kini dipasarkan ke kawasan wisata seperti Lombok, bahkan dipajang di beberapa hotel ternama. Sistem pembagian hasil dilakukan secara transparan melalui pihak rutan, sehingga warga binaan memperoleh penghasilan dari karya mereka sendiri.
Bagi para peserta, pelatihan ini membawa dampak lebih dari sekadar ekonomi. Aktivitas merajut membantu mereka mengelola tekanan psikologis, melatih fokus, serta membangun kembali rasa percaya diri. Sejumlah warga binaan mengaku mulai berani merencanakan kehidupan setelah bebas, sesuatu yang sebelumnya terasa mustahil.
“Saya jadi punya gambaran mau usaha apa nanti,” ujar salah satu warga binaan perempuan yang mengikuti pelatihan.
Amanda menegaskan bahwa pembinaan tidak seharusnya berhenti saat masa hukuman selesai. Ke depan, ia berencana membangun sanggar kerajinan di dalam lapas sebagai pusat produksi dan pembelajaran yang lebih terstruktur. Ia juga membuka peluang kerja bagi warga binaan yang telah bebas.
Baginya, rajutan bukan sekadar benang yang saling terhubung. Ia adalah proses memulihkan harapan—bahwa setiap orang, apa pun masa lalunya, tetap memiliki kesempatan untuk memperbaiki hidup dan merajut masa depan yang lebih bermakna.













