Jaksa Masuk Sekolah di SMPN 1 Ngasem Kediri: Pendidikan Hukum sebagai Proyek Kesadaran Publik

Avatar photo

- Jurnalis

Rabu, 28 Januari 2026 - 10:33 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kediri, AZMEDIA.CO.ID – Di tengah lanskap demokrasi Indonesia yang kerap riuh oleh tarik-menarik kepentingan, program Jaksa Masuk Sekolah (JMS) di SMP Ngasem, Kabupaten Kediri, hadir sebagai intervensi sunyi namun strategis. Ia tidak datang membawa palu pengadilan atau bahasa sanksi, melainkan pengetahuan—sebuah upaya membangun kesadaran hukum sejak dini di ruang yang paling menentukan masa depan republik: sekolah.

Kehadiran jaksa di hadapan para siswa menandai pergeseran paradigma penegakan hukum dari pendekatan represif ke preventif-edukatif. Dalam kerangka epistemologi, JMS berfungsi sebagai medium transmisi pengetahuan hukum yang teruji, memindahkan hukum dari wilayah abstraksi normatif ke pengalaman kognitif yang dapat dipahami remaja. Hukum tidak lagi sekadar teks pasal, melainkan peta orientasi moral dan sosial yang relevan dengan kehidupan sehari-hari—dari etika digital, perundungan, hingga konsekuensi hukum perilaku menyimpang.

ADVERTISEMENT

banner 480x600

SCROLL TO RESUME CONTENT

Namun, pendidikan hukum tidak pernah netral nilai. Di sinilah psikologi sosial kekuasaan menjadi kunci pembacaan. Jaksa—sebagai representasi negara—memasuki ruang kelas yang sarat relasi otoritas. Pertanyaannya bukan semata apa yang diajarkan, melainkan bagaimana kuasa itu dipresentasikan. Ketika otoritas hadir dengan bahasa dialogis, ia membentuk kepatuhan reflektif; sebaliknya, bila hadir sebagai dogma, ia berisiko melahirkan kepatuhan semu. JMS di SMP Ngasem menunjukkan upaya sadar untuk menghindari jebakan latter: jaksa memosisikan diri sebagai fasilitator nalar, bukan penentu kebenaran tunggal.

Baca Juga :  Pelaku Pengeroyokan di Kabupaten Tulungagung,Didominasi Generasi Muda

WhatsApp Image 2026 01 27 at 06.14.031 Jaksa Masuk Sekolah di SMPN 1 Ngasem Kediri: Pendidikan Hukum sebagai Proyek Kesadaran Publik

Dalam horizon ontologi hukum, JMS menantang anggapan lama bahwa hukum adalah realitas yang jauh dan menakutkan. Hukum, dalam praksis pendidikan ini, dipahami sebagai relasi—antara hak dan kewajiban, antara kebebasan dan tanggung jawab, antara individu dan komunitas. Para siswa diajak memahami bahwa hukum bukan sekadar perangkat koersif negara, melainkan tatanan yang hidup (living law) dan tumbuh bersama nilai sosial. Dengan demikian, hukum menjadi sesuatu yang ada dalam kehidupan mereka, bukan sekadar ada di lembaran negara.

Lebih jauh, JMS menghidupkan rasio legis sebagai nalar normatif pembentuk kebijakan publik. Program ini merefleksikan kesadaran negara bahwa pencegahan kejahatan tidak cukup mengandalkan penindakan; ia memerlukan investasi jangka panjang pada literasi hukum warga. Rasio ini menegaskan bahwa hukum yang efektif bertumpu pada kesadaran, bukan ketakutan. Pendidikan hukum di sekolah menjadi fondasi kebijakan yang berorientasi pada keberlanjutan sosial dan kualitas kewargaan.

Baca Juga :  Yustin Eka Siap Bawa Aspirasi Masyarakat Kabupaten Tulungagung

Ironinya, di tengah maraknya wacana penegakan hukum yang sering terjebak pada simbolisme kekuasaan, JMS justru bekerja di wilayah yang jarang disorot kamera. Ia tidak menawarkan sensasi, tetapi konsistensi. Tidak menjanjikan hasil instan, tetapi menumbuhkan benih nalar kritis. Di sinilah nilai politiknya: membangun warga negara yang memahami hukum sebagai alat emansipasi, bukan sekadar instrumen kontrol.

Bagi publik terdidik, JMS di SMP Ngasem Kediri layak dibaca sebagai praktik kebijakan yang melampaui seremonial. Ia adalah eksperimen epistemik dan pedagogik yang, bila dijalankan secara konsisten dan reflektif, berpotensi mengoreksi relasi negara–warga di masa depan. Pendidikan hukum sejak dini bukan sekadar program, melainkan proyek peradaban—tempat hukum dipelajari bukan untuk ditakuti, tetapi untuk dipahami, dikritisi, dan dijaga bersama.

 

 

Follow WhatsApp Channel azmedia.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

33 Coffee and Go Tumbuh dari Ketekunan Usaha Lokal
Merajut Harapan dari Balik Jeruji: Ketika Warga Binaan Menyiapkan Masa Depan
Menuju Subsidi Tepat Sasaran: Penyesuaian Kuota BBM Tahun 2026
Industri Kosmetik Berstandar Global Tumbuh dari Desa Rejotangan Tulungagung
Ekonomi Mikro Tetap Berputar: Jasa Permak Kenayan Tulungagung Masih Ramai
Rofian: Dari Penjual Jamu Keliling Menjadi Pengacara, Mengangkat Derajat Keluarga
Asrorul Mais: Dari Keterbatasan Menuju Wakil Rektor, Menggerakkan Pendidikan Inklusi
Dari Hobi Ngopi Jadi Cuan: Coffee Shop Rumahan Pasutri Blitar Laris via Medsos

Berita Terkait

Rabu, 28 Januari 2026 - 17:16 WIB

33 Coffee and Go Tumbuh dari Ketekunan Usaha Lokal

Rabu, 28 Januari 2026 - 16:34 WIB

Merajut Harapan dari Balik Jeruji: Ketika Warga Binaan Menyiapkan Masa Depan

Rabu, 28 Januari 2026 - 15:59 WIB

Menuju Subsidi Tepat Sasaran: Penyesuaian Kuota BBM Tahun 2026

Rabu, 28 Januari 2026 - 15:17 WIB

Industri Kosmetik Berstandar Global Tumbuh dari Desa Rejotangan Tulungagung

Rabu, 28 Januari 2026 - 10:33 WIB

Jaksa Masuk Sekolah di SMPN 1 Ngasem Kediri: Pendidikan Hukum sebagai Proyek Kesadaran Publik

Berita Terbaru

Bisnis

33 Coffee and Go Tumbuh dari Ketekunan Usaha Lokal

Rabu, 28 Jan 2026 - 17:16 WIB

News Update

Menuju Subsidi Tepat Sasaran: Penyesuaian Kuota BBM Tahun 2026

Rabu, 28 Jan 2026 - 15:59 WIB