Rofian: Dari Penjual Jamu Keliling Menjadi Pengacara, Mengangkat Derajat Keluarga

Avatar photo

- Jurnalis

Senin, 26 Januari 2026 - 16:07 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

AZMEDIA— Masa kecil Rofian tidak diwarnai kenyamanan. Ia tumbuh dalam keterbatasan, mengayuh sepeda tua dari kampung ke kampung untuk menjajakan jamu demi membantu ibunya—seorang buruh tani—menghidupi keluarga. Namun sebuah pengalaman pahit yang ia alami saat berjualan justru menjadi titik balik: dari anak yang nyaris kehilangan arah karena kemiskinan, Rofian bertransformasi menjadi sosok yang memilih jalan hukum dan kini berprofesi sebagai advokat.

Rofian, pria 40 tahun asal Desa Gondang, Kecamatan Plosoklaten, Kabupaten Kediri, mengenang masa kecilnya sebagai periode yang penuh perjuangan. Ayahnya telah tiada sejak ia masih balita. Sejak itu, ia dan saudara-saudaranya bergantung pada sang ibu, Muslimah, yang bekerja keras di ladang. Kebutuhan sehari-hari dijalani dengan sangat sederhana—bahkan sepatu sekolah pun ia pakai dari barang bekas yang ditambal sendiri oleh ibunya.

Sejak duduk di bangku sekolah dasar, Rofian sudah terbiasa bekerja sambil belajar. Ia pernah menjadi pedagang asongan, menjual barang-barang kecil, hingga akhirnya menekuni jualan jamu keliling. Sepeda yang ia gunakan pun bukan miliknya—melainkan pinjaman. Rutinitasnya padat: sekolah, bekerja, lalu kembali membantu keluarga.

ADVERTISEMENT

banner 480x600

SCROLL TO RESUME CONTENT

Suatu hari, ketika menawarkan jamu ke sebuah rumah, ia mendapat respons yang menyakitkan. Calon pembeli menolak dengan nada keras dan menuduh jamu yang dijualnya bermasalah, bahkan menyebut soal “melanggar hukum” dan ancaman penjara. Rofian kecil pulang dengan perasaan takut dan bingung. Tetapi dari ketakutan itulah tumbuh kesadaran baru: ternyata hidup memiliki aturan, dan hukum bisa menentukan nasib seseorang.

Baca Juga :  Fitur WhatsApp yang Jarang Diketahui, Bikin Chat Makin Praktis

Pengalaman itu menancap kuat di benaknya. Ia mulai menyimpan mimpi: suatu saat harus memahami hukum agar tidak mudah diinjak, dan bisa membela diri maupun orang lain. Sayangnya, setelah lulus SMK, mimpi itu belum bisa segera diwujudkan. Kondisi ekonomi membuat kuliah terasa seperti kemewahan.

Rofian tetap bekerja. Dari hasil berjualan, ia menabung sedikit demi sedikit. Tabungan itu ia gunakan untuk mengikuti kursus komputer, lalu masuk ke pekerjaan jasa perbaikan dan instalasi perangkat. Perlahan, kondisi keuangannya membaik. Pada titik itulah ia memberanikan diri mendaftar kuliah dan memilih jurusan hukum—sebuah pilihan yang lahir dari luka masa kecil sekaligus harapan untuk mengubah nasib.

Di dunia kampus, Rofian tidak hanya belajar di kelas. Ia aktif berorganisasi, mengikuti pelatihan advokasi dan penulisan, serta memperluas pengalaman sosial. Namun satu hal tidak berubah: ia tetap harus bekerja agar kuliah tidak terhenti. Beasiswa yang ia peroleh karena prestasi akademik menjadi penolong penting untuk menekan biaya hidup.

Baca Juga :  Para Kades di Ngantru Tulungagung Harap Ada SMA Negeri di Wilayahnya

Ia bahkan sempat menekuni dunia jurnalistik—berawal dari radio lokal, lalu merambah ke media lain—sebagai cara bertahan sekaligus memperkaya jejaring. Baginya, pengalaman lapangan, keberanian berkomunikasi, dan jaringan pertemanan adalah modal yang sama berharganya dengan nilai akademik.

Setelah lulus sarjana hukum, Rofian melanjutkan pendidikan profesi advokat hingga resmi disumpah sebagai pengacara. Kini, ia menangani berbagai perkara dari klien lintas latar belakang, sembari membawa misi pribadi: memutus rantai kemiskinan keluarganya dan mengangkat martabat orang-orang terdekat yang dulu sama-sama bertahan dalam kekurangan.

Rofian meyakini, cobaan hidup bukan untuk menghancurkan, melainkan menempa mental agar lebih kuat. Ia juga menekankan bahwa kecerdasan saja tidak cukup. Menurutnya, kemampuan mengelola emosi, membangun relasi, dan membawa diri di tengah masyarakat adalah bekal penting untuk bertahan dan maju.

Kisah Rofian menjadi inspirasi yang relevan: keterbatasan ekonomi tidak harus menjadi vonis seumur hidup. Dengan kerja keras, strategi, dan kemauan belajar, pengalaman pahit bisa berubah menjadi energi untuk menata masa depan—bukan hanya bagi diri sendiri, tetapi juga bagi orang lain yang membutuhkan keadilan.

Follow WhatsApp Channel azmedia.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

33 Coffee and Go Tumbuh dari Ketekunan Usaha Lokal
Merajut Harapan dari Balik Jeruji: Ketika Warga Binaan Menyiapkan Masa Depan
Menuju Subsidi Tepat Sasaran: Penyesuaian Kuota BBM Tahun 2026
Industri Kosmetik Berstandar Global Tumbuh dari Desa Rejotangan Tulungagung
Jaksa Masuk Sekolah di SMPN 1 Ngasem Kediri: Pendidikan Hukum sebagai Proyek Kesadaran Publik
Ekonomi Mikro Tetap Berputar: Jasa Permak Kenayan Tulungagung Masih Ramai
Asrorul Mais: Dari Keterbatasan Menuju Wakil Rektor, Menggerakkan Pendidikan Inklusi
Belanja Lokal, Dampak Besar: Pasar Senggol Bangoan Gerakkan UMKM Kuliner Tradisional

Berita Terkait

Rabu, 28 Januari 2026 - 17:16 WIB

33 Coffee and Go Tumbuh dari Ketekunan Usaha Lokal

Rabu, 28 Januari 2026 - 16:34 WIB

Merajut Harapan dari Balik Jeruji: Ketika Warga Binaan Menyiapkan Masa Depan

Rabu, 28 Januari 2026 - 15:59 WIB

Menuju Subsidi Tepat Sasaran: Penyesuaian Kuota BBM Tahun 2026

Rabu, 28 Januari 2026 - 15:17 WIB

Industri Kosmetik Berstandar Global Tumbuh dari Desa Rejotangan Tulungagung

Rabu, 28 Januari 2026 - 10:33 WIB

Jaksa Masuk Sekolah di SMPN 1 Ngasem Kediri: Pendidikan Hukum sebagai Proyek Kesadaran Publik

Berita Terbaru

Bisnis

33 Coffee and Go Tumbuh dari Ketekunan Usaha Lokal

Rabu, 28 Jan 2026 - 17:16 WIB

News Update

Menuju Subsidi Tepat Sasaran: Penyesuaian Kuota BBM Tahun 2026

Rabu, 28 Jan 2026 - 15:59 WIB