Sachet: Ketika Negara Menjadi Sponsor Setia Produk Gagal

Avatar photo

- Jurnalis

Senin, 12 Januari 2026 - 00:12 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

KEDIRI, AZMEDIA INDONESIA – Sampah plastik kemasan sachet multilayer ditemukan mendominasi tumpukan sampah di sejumlah titik Sungai Brantas yang melintasi wilayah Kediri dan Tulungagung. Limbah sekali pakai tersebut dinilai sulit dikelola dan berpotensi memperparah pencemaran sungai strategis di Jawa Timur.

Sampah sachet bekas produk rumah tangga seperti deterjen, sampo, dan kopi instan terlihat menumpuk di bantaran sungai dan tersangkut di vegetasi air. Jenis sampah ini termasuk residu yang tidak memiliki nilai ekonomi sehingga jarang diambil pemulung.

Temuan tersebut berada di sepanjang aliran Sungai Brantas pada wilayah Kediri hingga Tulungagung, terutama di area padat permukiman dan dekat saluran pembuangan domestik.

ADVERTISEMENT

banner 480x600

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kondisi ini terpantau berulang dalam beberapa tahun terakhir dan cenderung meningkat saat musim hujan, ketika sampah dari daratan terbawa aliran air menuju sungai utama.

Masyarakat yang bergantung pada Sungai Brantas untuk kebutuhan air, pertanian, dan perikanan menjadi pihak yang terdampak langsung. Pemerintah daerah juga menghadapi konsekuensi berupa meningkatnya beban pengelolaan lingkungan sungai.

Baca Juga :  Ledakan terjadi di pabrik Indarung V milik PT Semen Padang.

WhatsApp Image 2026 01 11 at 23.28.15 Sachet: Ketika Negara Menjadi Sponsor Setia Produk Gagal

Menurut data Sustainable Waste Indonesia, tingkat daur ulang plastik nasional masih berada di kisaran 10–15 persen, dengan dominasi plastik bernilai tinggi seperti botol.
Sachet multilayer, yang tersusun dari kombinasi plastik dan aluminium foil, sulit dipisahkan serta tidak menarik bagi industri daur ulang. Akibatnya, sampah jenis ini kerap berakhir di lingkungan terbuka, termasuk sungai.

Sementara itu, National Plastic Action Partnership mencatat sekitar 4,8 juta ton sampah plastik per tahun di Indonesia tergolong tidak terkelola, dan sebagian di antaranya berkontribusi pada pencemaran sungai-sungai besar, termasuk Brantas.

Akumulasi sampah sachet di Sungai Brantas berpotensi:

  • menghambat aliran air,

  • menurunkan kualitas air,

  • meningkatkan risiko banjir lokal,

  • serta mengancam ekosistem sungai.

Di beberapa titik, warga memilih membakar sampah plastik yang menumpuk di bantaran sungai, yang berpotensi menimbulkan pencemaran udara.

Baca Juga :  Fenomena Langit Januari 2026: Supermoon hingga Hujan Meteor

Pemerintah telah menetapkan kebijakan pengurangan sampah oleh produsen melalui PermenLHK No. 75 Tahun 2019, yang menargetkan pengurangan sampah kemasan hingga 30 persen pada 2029. Namun, hingga kini, keberadaan sampah sachet di Sungai Brantas wilayah Kediri–Tulungagung menunjukkan tantangan implementasi kebijakan tersebut di tingkat daerah.


Catatan Redaksi:
Berita ini disusun berdasarkan observasi lapangan, data lembaga pemantau sampah, serta kebijakan publik terkait pengelolaan lingkungan. Redaksi membuka ruang hak jawab bagi pemerintah daerah, instansi terkait, dan pelaku industri untuk memberikan klarifikasi atau tanggapan. Apabila ada pihak yang merasa dirugikan dan/atau keberatan dengan penayangan artikel dan/atau berita tersebut di atas, Anda dapat mengirimkan artikel dan/atau berita berisi sanggahan dan/atau koreksi kepada Redaksi kami,sebagaimana diatur dalam Pasal 1 ayat (11) dan (12)Undang-Undang Nomor 40 tahun 1999 tentang Pers.

Sanggahan dan/atau klarifikasi dapat disampaikan kepada Redaksi AZMEDIA INDONESIA melalui:
📧 redaksi@azmedia.co.id
📱 WhatsApp: +62 816-5133-39

Follow WhatsApp Channel azmedia.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

33 Coffee and Go Tumbuh dari Ketekunan Usaha Lokal
Merajut Harapan dari Balik Jeruji: Ketika Warga Binaan Menyiapkan Masa Depan
Menuju Subsidi Tepat Sasaran: Penyesuaian Kuota BBM Tahun 2026
Industri Kosmetik Berstandar Global Tumbuh dari Desa Rejotangan Tulungagung
Jaksa Masuk Sekolah di SMPN 1 Ngasem Kediri: Pendidikan Hukum sebagai Proyek Kesadaran Publik
Ekonomi Mikro Tetap Berputar: Jasa Permak Kenayan Tulungagung Masih Ramai
Rofian: Dari Penjual Jamu Keliling Menjadi Pengacara, Mengangkat Derajat Keluarga
Asrorul Mais: Dari Keterbatasan Menuju Wakil Rektor, Menggerakkan Pendidikan Inklusi

Berita Terkait

Rabu, 28 Januari 2026 - 17:16 WIB

33 Coffee and Go Tumbuh dari Ketekunan Usaha Lokal

Rabu, 28 Januari 2026 - 16:34 WIB

Merajut Harapan dari Balik Jeruji: Ketika Warga Binaan Menyiapkan Masa Depan

Rabu, 28 Januari 2026 - 15:59 WIB

Menuju Subsidi Tepat Sasaran: Penyesuaian Kuota BBM Tahun 2026

Rabu, 28 Januari 2026 - 15:17 WIB

Industri Kosmetik Berstandar Global Tumbuh dari Desa Rejotangan Tulungagung

Rabu, 28 Januari 2026 - 10:33 WIB

Jaksa Masuk Sekolah di SMPN 1 Ngasem Kediri: Pendidikan Hukum sebagai Proyek Kesadaran Publik

Berita Terbaru

Bisnis

33 Coffee and Go Tumbuh dari Ketekunan Usaha Lokal

Rabu, 28 Jan 2026 - 17:16 WIB

News Update

Menuju Subsidi Tepat Sasaran: Penyesuaian Kuota BBM Tahun 2026

Rabu, 28 Jan 2026 - 15:59 WIB