AZMEDIA — Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menyampaikan bahwa program Makan Bergizi Gratis (MBG) telah menjangkau sekitar 55 juta penerima manfaat hingga Senin (5/1). Ia menilai capaian tersebut tergolong signifikan, bahkan melampaui kecepatan pelaksanaan program serupa di sejumlah negara lain, termasuk Brasil.
Menurut Prabowo, Indonesia mampu mencapai puluhan juta penerima hanya dalam waktu satu tahun sejak program dijalankan. Sebagai perbandingan, ia menyebut Brasil membutuhkan waktu lebih dari satu dekade untuk menyalurkan program makan gratis kepada sekitar 40 juta masyarakat.
Ia menuturkan, setiap hari pemerintah menyediakan makanan bergizi bagi puluhan juta warga. Skala program tersebut, kata dia, setara dengan memberi makan populasi beberapa negara kecil sekaligus. Pernyataan itu disampaikannya saat menghadiri Perayaan Natal Nasional, Senin (5/1).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Prabowo kemudian menjelaskan bahwa kebijakan MBG lahir dari keprihatinannya terhadap kondisi anak-anak di daerah pedesaan. Ia mengaku kerap menjumpai anak-anak yang secara usia mendekati remaja, namun pertumbuhan fisiknya tertinggal akibat kekurangan asupan gizi.
Berangkat dari kondisi tersebut, ia melakukan serangkaian kajian dan studi banding ke berbagai negara untuk mempelajari kebijakan pemenuhan gizi masyarakat. Salah satu negara yang menjadi rujukan adalah India, yang menurutnya menempatkan program makan bergizi sebagai prioritas dalam anggaran negara bagi kelompok rentan.
Saat ini, pemerintah Indonesia telah merealisasikan program MBG secara luas di berbagai wilayah. Prabowo menyebut kebijakan tersebut juga mendapat perhatian positif dari komunitas internasional. Ia mencontohkan penilaian sejumlah pakar dari Rockefeller Institute yang memandang MBG sebagai salah satu bentuk investasi pemerintah yang memiliki dampak jangka panjang.
Dalam kajian tersebut, program MBG disebut berpotensi memberikan efek pengganda ekonomi yang cukup besar dari setiap rupiah anggaran yang dikeluarkan. Meski demikian, Prabowo menegaskan bahwa manfaat ekonomi bukanlah tujuan utama dari kebijakan tersebut.
Ia menekankan bahwa fokus utama pemerintah adalah memastikan anak-anak Indonesia memperoleh asupan gizi yang memadai agar dapat tumbuh dan berkembang secara optimal. Menurutnya, program ini digerakkan oleh kepedulian terhadap masa depan generasi muda, bukan semata pertimbangan ekonomi.













