Surat Terbuka sebagai Cermin Krisis Rasionalitas Kekuasaan di Tulungagung

Avatar photo

- Jurnalis

Selasa, 30 Desember 2025 - 16:33 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Tulungagung, AZMEDIA.CO.ID – Di penghujung tahun 2025, ruang publik Kabupaten Tulungagung diguncang oleh sebuah dokumen politik–moral yang melampaui format korespondensi biasa. Sebuah Surat Terbuka Masyarakat Sipil Tulungagung bernomor 12/ST/Masy-TA/XII/2025 secara resmi dialamatkan kepada Gatut Sunu Wibowo dan Ahmad Baharudin, bukan semata sebagai ekspresi kekecewaan, melainkan sebagai artikulasi kesadaran kolektif atas krisis kepemimpinan yang kian mengeras menjadi problem struktural pemerintahan daerah.

dalam surat tersebut bukan sekadar teguran etis, melainkan tuduhan serius mengenai disfungsi tata kelola pemerintahan daerah. Masyarakat sipil menilai telah terjadi pengabaian sistematis terhadap prinsip kepemimpinan dwi-tunggal Bupati dan Wakil Bupati, terutama dalam proses strategis seperti penyusunan APBD, mutasi jabatan, dan pengambilan keputusan kebijakan publik. Surat itu menempatkan konflik elite sebagai variabel penyebab mandeknya pelayanan publik dan tersendatnya agenda pembangunan.

tidak hanya terbatas pada dua figur puncak eksekutif daerah, tetapi juga mencakup birokrasi yang terjebak dalam ambiguitas loyalitas, investor yang menarik diri akibat ketidakpastian politik, serta 1,1 juta warga Tulungagung yang secara diam-diam menanggung biaya sosial dari pertarungan ego kekuasaan. Dalam konstruksi narasinya, masyarakat sipil memosisikan diri sebagai subjek pengawas kedaulatan rakyat, bukan penonton pasif drama elite.

surat itu disampaikan menjadi signifikan secara simbolik: akhir tahun 2025, sebuah fase evaluatif dalam siklus kebijakan publik. Momentum ini menegaskan bahwa konflik kepemimpinan tidak lagi dapat ditoleransi sebagai dinamika internal, melainkan telah mencapai titik di mana ia mengancam keberlanjutan pemerintahan dan legitimasi politik daerah menjelang tahun anggaran baru.

krisis ini berakar jelas: di jantung kekuasaan lokal, di balik dinding Pendopo Kabupaten dan ruang-ruang tertutup pengambilan keputusan. Namun resonansinya melampaui batas administratif Tulungagung, karena konflik tersebut disebut telah tercium hingga tingkat nasional, menandakan rapuhnya institusionalisasi tata kelola daerah dalam kerangka negara kesatuan.

surat itu menjadi penting terletak pada argumen hukumnya. Masyarakat sipil secara eksplisit merujuk Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah serta asas-asas umum pemerintahan yang baik (AUPB). Pengabaian peran Wakil Bupati diposisikan sebagai potensi abuse of power yang berimplikasi pada cacat prosedural produk hukum daerah. Dengan demikian, konflik personal ditransformasikan menjadi isu legal–konstitusional yang berpotensi memicu delegitimasi kebijakan.

masyarakat sipil merespons krisis ini juga mencerminkan rasionalitas kebijakan yang reflektif. Surat tersebut tidak berhenti pada kritik, tetapi menawarkan arsitektur rekonsiliasi: gagasan “Meja Bundar Pendopo”, deklarasi Pakta Integritas Jilid II, serta audit komunikasi birokrasi. Usulan ini menunjukkan upaya mengembalikan konflik kekuasaan ke dalam koridor institusional, transparan, dan akuntabel—sebuah ironi intelektual ketika rakyat justru harus mengajari penguasa tentang tata kelola yang baik.

Baca Juga :  Pembongkaran tugu pencaksilat di Tulungagung

Pada akhirnya, surat terbuka ini berfungsi sebagai cermin yang memantulkan paradoks kekuasaan lokal: ketika sumpah jabatan diikrarkan atas nama konstitusi dan Tuhan, namun praktik pemerintahan terjebak dalam rasionalitas ego. Dalam perspektif kebijakan publik, dokumen ini bukan sekadar berita, melainkan arsip kritik sejarah—penanda bahwa legitimasi kekuasaan tidak pernah bersumber dari baliho dan retorika, melainkan dari kemampuan menjaga harmoni institusional demi kepentingan rakyat.


Catatan Redaksi: Apabila ada pihak yang merasa dirugikan dan/atau keberatan dengan penayangan artikel dan/atau berita tersebut di atas, Anda dapat mengirimkan artikel dan/atau berita berisi sanggahan dan/atau koreksi kepada Redaksi kami,sebagaimana diatur dalam Pasal 1 ayat (11) dan (12)Undang-Undang Nomor 40 tahun 1999 tentang Pers.

Sanggahan dan/atau klarifikasi dapat disampaikan kepada Redaksi AZMEDIA INDONESIA melalui:
📧 redaksi@azmedia.co.id
📱 WhatsApp: +62 816-5133-39

Penulis : Redaksi

Editor : Redaksi

Sumber Berita: Rorokembang

Follow WhatsApp Channel azmedia.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

33 Coffee and Go Tumbuh dari Ketekunan Usaha Lokal
Industri Kosmetik Berstandar Global Tumbuh dari Desa Rejotangan Tulungagung
Ekonomi Mikro Tetap Berputar: Jasa Permak Kenayan Tulungagung Masih Ramai
Rofian: Dari Penjual Jamu Keliling Menjadi Pengacara, Mengangkat Derajat Keluarga
Asrorul Mais: Dari Keterbatasan Menuju Wakil Rektor, Menggerakkan Pendidikan Inklusi
Belanja Lokal, Dampak Besar: Pasar Senggol Bangoan Gerakkan UMKM Kuliner Tradisional
Dari Hobi Ngopi Jadi Cuan: Coffee Shop Rumahan Pasutri Blitar Laris via Medsos
Simpang Muning Mojoroto Rawan, Kecelakaan Beruntun Bus Harapan Jaya Dorong Evaluasi Keselamatan Lalu Lintas

Berita Terkait

Rabu, 28 Januari 2026 - 17:16 WIB

33 Coffee and Go Tumbuh dari Ketekunan Usaha Lokal

Rabu, 28 Januari 2026 - 15:17 WIB

Industri Kosmetik Berstandar Global Tumbuh dari Desa Rejotangan Tulungagung

Senin, 26 Januari 2026 - 16:07 WIB

Rofian: Dari Penjual Jamu Keliling Menjadi Pengacara, Mengangkat Derajat Keluarga

Senin, 26 Januari 2026 - 15:41 WIB

Asrorul Mais: Dari Keterbatasan Menuju Wakil Rektor, Menggerakkan Pendidikan Inklusi

Minggu, 25 Januari 2026 - 16:08 WIB

Belanja Lokal, Dampak Besar: Pasar Senggol Bangoan Gerakkan UMKM Kuliner Tradisional

Berita Terbaru

Bisnis

33 Coffee and Go Tumbuh dari Ketekunan Usaha Lokal

Rabu, 28 Jan 2026 - 17:16 WIB

News Update

Menuju Subsidi Tepat Sasaran: Penyesuaian Kuota BBM Tahun 2026

Rabu, 28 Jan 2026 - 15:59 WIB