azmedia
×
Swipe up untuk membaca artikel

Ingin membaca berita tanpa iklan?

Buka di aplikasi AZMEDIA

INSTALL

Wakil Bupati Tulungagung Halal Bi Halal, Kupatan Masal di Kelurahan Kepatihan

Wakil Bupati Tulungagung Halal Bi Halal, Kupatan Masal di Kelurahan Kepatihan

Img 20220527 183921 Wakil Bupati Tulungagung Halal Bi Halal, Kupatan Masal Di Kelurahan Kepatihan

TULUNGAGUNG.AZMEDIA.CO.ID – Wakil Bupati Tulungagung H. Gatut Sunu Wibowo, S.E., didampingi istri hadiri halal Bi halal, kupatan syawal masyarakat Kelurahan Kepatihan, Gang VII, Kamis (26/05/2022).

Meski di guyur hujan gerimis, Namun tidak menyurutkan semangat masyarakat setempat untuk mengikuti rangkaian acara tersebut. Selain itu, Wabup Gatut Sunu Wibowo mendatangi satu per satu rumah warga yang menyediakan kupatan tersebut.

Hadir dalam kupatan syawal tersebut, Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat Setda Kabupaten Tulungagung Drs. Sukarji, Camat Tulungagung Kota Iswahjudi, S.STP., Lurah Kepatihan Khomsatun, S.Sos., dan tamu undangan lainnya.

Img 20220527 183904 Wakil Bupati Tulungagung Halal Bi Halal, Kupatan Masal Di Kelurahan Kepatihan

Wakil Bupati Tulungagung Gatut Sunu Wibowo SE mengatakan “Atas nama pribadi dan Pemerintah kabupaten Tulungagung tidak lupa mengucapkan Selamat Hari Idul Fitri 1443 Hijriah Mohon Maaf Lahir dan Batin,” ucapnya

Wabup Gatut Sunu Wibowo memaknai kupatan ini merupakan sebuah tradisi warisan budaya leluhur yang bertahan hingga sekarang ini yang biasanya dilakukan setelah seminggu hari raya Idul Fitri.

“Tradisi kupatan ini merupakan sebuah akulturasi budaya yang pada saat itu diperkenalkan oleh salah satu Wali Songo”, terangnya.

“Tradisi kupatan bukan hanya sekedar sebuah seremonial belaka, namun demikian memiliki filosofis tersendiri”, sambung Gatut Sunu.

Adapun kata kupat berasal dari bahasa Jawa yakni Ngaku lepat (Mengakui kesalahan.red) yang memilki arti sebagai insan manusia biasa pasti tidak lepas dari kesalahan antar sesama.

Adapun janur atau daun kelapa yang digunakan untuk membungkus ketupat memiliki kepanjangan kata Jatining Nur yang artinya hati nurani. Sedangkan beras yang dimasukkan kedalam anyaman ketupat itu bisa diartikan sebagai nafsu dunia.

“Semoga pertemuan ini memiliki makna dan manfaat yang besar dalam meningkatkan rasa kebersamaan, persaudaraan, persatuan, dan senasib sepenanggungan”, pungkasnya. (prn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.