azmedia
×
Swipe up untuk membaca artikel

Ingin membaca berita tanpa iklan?

Buka di aplikasi AZMEDIA

INSTALL

Tuntut Transparansi Dana Sumbangan, Ribuan Siswa SMKN 1 Boyolangu Tulungagung Unjuk Rasa

Tuntut Transparansi Dana Sumbangan, Ribuan Siswa SMKN 1 Boyolangu Tulungagung Unjuk Rasa

Avatar Of Paul Suparno
Img 20220905 Wa0069 Tuntut Transparansi Dana Sumbangan, Ribuan Siswa Smkn 1 Boyolangu Tulungagung Unjuk Rasa

TULUNGAGUNG, AZMEDIA INDONESIA -Ribuan siswa – siswi SMKN 1 Boyolangu, Tulungagung, Jawa Timur menggelar aksi unjuk rasa di halaman sekolah mempertanyakan kebijakan sumbangan yang dirasa memberatkan.

Mereka menuntut pihak sekolahan transparansi rincian anggaran dana sumbangan dari wali murid. Terlebih, agenda sumbangan melalui komite terjadi setiap tahun tanpa ada kejelasan realisasinya.

Usai aksi unjuk rasa, saat dikonfirmasi awak media. AP dan RAT siswi SMKN 1 Boyolangu menerangkan bahwa, siswa/wi unjuk rasa mewakili orang tua mereka.

“Teman-teman demo mewakili dari orang tua masing-masing yang merasa keberatan akan sumbangan yang terus-menerus setiap tahun yang jumlahnya tidak sedikit,” terangnya. Senin (05/09/2022).

Menambahkan, sumbangan yang diajukan setiap tahun kepada wali murid sangat fantastis, mencapai miliar’an.

“Besaran sumbangan yang dibebankan ke siswa beragam nilainya. Dari hasil rapat komite sekolah dengan para wali murid yang terakhir, untuk klas X kisaran Rp 2.700.000,– , klas XI Rp 1.200.000,– dan klas XII Rp 1.600.000,–.,” ucapnya.

Menurut AP dan RAT, selama kurun waktu 3 (tiga) tahun ini pembangunan fasilitas yang dijanjikan seperti ruang kelas tambahan dan tempat parkir juga belum ada realisasinya sehingga beberapa siswa harus rela belajar diluar ruang kelas.

“Tadi katanya terkait hasil rapat komite sekolah dengan wali murid kemarin akan dikaji ulang dan dibatalkan oleh pihak sekolah,” tuturnya.

Namun demikian, menurut AP bagi yang sudah terlanjur membayar tidak bisa dikembalikan karena dari pihak sekolah berdalih sudah dipakai untuk pembangunan.

“Tapi sejauh ini kami juga tidak tahu pembangunan apa. Soalnya juga tidak ada transparansinya. Dan kami tadi dijanjikan akan dibuatkan perinciannya tapi saat kami tanyakan kapan belum bisa menjawab kapan pastinya,” imbuhnya.

Atas hal ini AP dan ART mengaku meskipun sudah ada audiensi dari pihak sekolah, namun masih belum merasa puas karena audiensi tersebut dilakukan agar para siswa tidak emosi.

“Yang jelas kami belum puas, audiensi tadi hanya utuk meredam emosi kami saja,” ungkapnya.

Img 20220905 Wa0067 Tuntut Transparansi Dana Sumbangan, Ribuan Siswa Smkn 1 Boyolangu Tulungagung Unjuk Rasa

Sementara itu, Kepala SMKN 1 Boyolangu, Arik Eko Lestari saat dikonfirmasi awak media mengaku bahwa sebenarnya tidak ada keharusan untuk membayar sumbangan dan itu sudah dijelaskan saat rapat wali murid.

“Sesuai hasil rapat kemarin yang membayar sumbangan itu bagi wali murid yang mampu saja, jadi tidak ada keharusan,” terangnya.

Selain itu, menurut Arik sumbangan nantinya untuk kebutuhan untuk mencapai master plan yang sudah disiapkan beberapa tahun lalu tidak mencukupi sehingga pihaknya harus mencari sharing dari wali murid.

“Kita kan mau sharing dari APBN dan karena kondisi yang dibutuhkan mencapai master plan yang disiapkan tahun lalu tidak nutut, akhirnya kita harus cari sharing dari wali murid,” tambahnya.

Ditempat yang sama, ketua komite sekolah Winarto mengatakan, jika SMKN 1 Boyolangu mendapat bantuan program membangun Alfa Mart, sedangkan pemerintah menyediakan dana 70 persennya saja sehingga kekurangan yang 30 persen dibebankan ke pihak sekolah.

“Untuk mencukupi yang 30 persen itulah kita mencarikan sumbangan ke wali murid. Dan satu hal yang perlu diketahui, ketika tahun – tahun kemarin sudah ditetapkan sumbangan sekian, ternyata tingkat presentase pembayaran sumbangan wali murid hanya sekitar 25 — 50 persennya saja,” katanya.

Dan dalam kenyataannya juga ada yang tidak membayar nya, seperti siswa yatim – piatu, keluarga yang tergolong pra sejahtera, dan wali murid yang mempunyai lebih satu anak sekolah disini tentu juga ada keringanan. Intinya kami tidak ingin memberatkan wali murid,” pungkas Winarto.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.