AZMEDIA — Ketekunan warga RW 08 Kelurahan Gunung Anyar Tambak, Surabaya, dalam merawat lingkungan akhirnya berbuah manis. Melalui gerakan Bank Sampah Rukmi, kawasan ini meraih penghargaan Program Kampung Iklim (ProKlim) kategori Lestari tingkat nasional pada Desember 2025—sebuah pengakuan atas kerja panjang yang dijalankan dengan konsisten, bukan gerakan musiman.
Penggerak ProKlim setempat menjelaskan, kekuatan utama RW 08 terletak pada keberlanjutan program yang sudah berjalan sejak 2017. Meski lingkupnya hanya satu RW, aktivitas warga dinilai paling stabil dan aktif dalam pengelolaan sampah serta kegiatan lingkungan lainnya, sehingga menjadi pembeda dibanding wilayah lain.
“Penilaian ProKlim menekankan program yang berjalan lama dan berkelanjutan. Kami mulai 2017 dan terus bergerak. Kegiatan ini juga didukung kolaborasi banyak pihak, dari kelompok pendidikan usia dini, PKK, karang taruna, sampai pengurus RT/RW,” ujarnya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Naik Kelas dari “Utama” ke “Lestari”
Sebelum meraih predikat Lestari, RW 08 Gunung Anyar Tambak lebih dulu mendapatkan status ProKlim Utama pada 2022. Setelah itu, warga tidak berhenti pada pencapaian. Mereka memperluas dampak dengan membina kampung-kampung lain di Surabaya. Hasilnya, sejumlah wilayah binaan berhasil naik kelas dan banyak yang menembus kategori Utama—membuktikan bahwa pengetahuan dan praktik baik bisa ditularkan, bukan disimpan sendiri.
Inovasi Sampah yang Dibuat Sederhana, Tapi Berdampak
Bank Sampah Rukmi tidak hanya berfungsi sebagai tempat mengumpulkan sampah anorganik. Warga mengembangkan berbagai kegiatan pengolahan dan edukasi, mulai dari pemilahan yang lebih rapi, program sedekah sampah, hingga memanfaatkan minyak jelantah menjadi produk bernilai guna seperti lilin. Inovasi-inovasi ini memperlihatkan bahwa solusi lingkungan tidak selalu harus mahal; yang terpenting adalah sistemnya berjalan dan kebiasaan warganya terbentuk.
Ketahanan Pangan Ikut Dikuatkan
Menariknya, gerakan lingkungan di RW 08 juga menyentuh aspek ekonomi keluarga melalui ketahanan pangan. Lahan kosong yang sebelumnya tidak produktif mulai dimanfaatkan menjadi kolam ikan dan kebun warga. Hasilnya bukan hanya untuk konsumsi, tetapi juga bisa memberi tambahan pemasukan ketika panen melimpah—seperti saat warga sempat menjual hasil kebun dan memperoleh hasil yang cukup baik.
Target 2026: Kampung Wisata Edukasi dan TPS 3R
Memasuki 2026, warga menargetkan RW 08 berkembang menjadi Kampung Wisata Edukasi—tempat belajar praktik baik pengelolaan lingkungan, sekaligus ruang kunjungan bagi masyarakat yang ingin meniru model yang sama. Selain itu, mereka juga berharap dukungan untuk mewujudkan TPS 3R (Reduce, Reuse, Recycle) agar pengolahan sampah semakin kuat, volume sampah ke TPA menurun, dan peluang kerja baru bisa tercipta di lingkungan setempat.
Harapan itu bukan sekadar rencana. Jika TPS 3R dapat direalisasikan, RW 08 berpeluang memperluas dampak: mengurangi beban sampah kota, memperkuat ekonomi warga, serta memperlebar jangkauan edukasi lingkungan bagi masyarakat umum.
Kisah Bank Sampah Rukmi menjadi pengingat bahwa perubahan besar sering lahir dari langkah kecil yang dilakukan terus-menerus. Dari satu RW, gerakan warga ini mampu menembus panggung nasional—membuktikan bahwa ketika komunitas kompak, lingkungan terjaga, dan manfaatnya kembali ke masyarakat.













