AZMEDIA — Aktivitas transaksi di sejumlah pasar tradisional Tulungagung perlahan menunjukkan perubahan. Jika dulu uang tunai menjadi andalan utama, kini sebagian pedagang mulai terbiasa melayani pembayaran nontunai melalui QRIS. Langkah ini dinilai membantu transaksi lebih cepat, mengurangi kerepotan uang kembalian, sekaligus memperluas peluang penjualan.
Di lapak sayur, kios kebutuhan dapur, hingga pedagang makanan siap santap, QRIS mulai terlihat terpajang berdampingan dengan kalkulator dan buku catatan. Bagi pedagang, perubahan ini bukan sekadar mengikuti tren, melainkan cara beradaptasi dengan pola belanja masyarakat yang semakin praktis.
Sejumlah pedagang mengakui, pembayaran nontunai memudahkan ketika pembeli tidak membawa uang pas. Transaksi juga lebih ringkas karena cukup memindai kode, lalu pembayaran masuk tanpa perlu menghitung kembalian. Dalam jam ramai, kondisi ini membuat antrean lebih terkendali.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Selain efisiensi, penggunaan QRIS juga membantu pedagang mencatat pemasukan harian lebih rapi. Riwayat transaksi yang tersimpan otomatis dapat menjadi pegangan untuk menghitung omzet, mengatur stok, hingga menyusun kebutuhan belanja dagangan.
Namun, adopsi QRIS di pasar tradisional tetap menghadapi tantangan. Tidak semua pedagang terbiasa dengan ponsel, sementara kualitas jaringan internet di beberapa titik pasar kadang belum stabil. Karena itu, sebagian pedagang masih menjalankan dua cara sekaligus: tetap menerima tunai, tetapi menyediakan QRIS untuk pembeli yang membutuhkan.
Di sisi lain, langkah pedagang pasar memanfaatkan QRIS dapat menjadi sinyal positif bagi penguatan ekonomi rakyat. Ketika transaksi semakin mudah, peluang pembeli untuk kembali berbelanja juga meningkat. Adaptasi kecil seperti ini, jika konsisten, berpotensi membawa dampak besar: pedagang lebih efisien, pembeli lebih nyaman, dan aktivitas pasar tetap hidup di tengah perubahan zaman.













