AZMEDIA — Di balik kesibukan itu, ada Eka, pelaku usaha pempek rumahan yang membangun bisnisnya dari langkah kecil. Dulu, ia hanya melayani pesanan di sekitar rumah. Kini, pempek frozen racikannya telah menemukan pelanggan hingga luar negeri, mulai dari Amerika hingga beberapa negara di Asia dan Eropa.
Berangkat dari Lingkungan Terdekat, Tumbuh karena Konsisten
Usahanya mulai berjalan sejak 2011. Pada masa awal, semuanya masih sederhana: produksi secukupnya sesuai pesanan. Tetapi ketika pelanggan semakin banyak, Eka menangkap kebutuhan baru—usaha rumahan harus ditata lebih profesional bila ingin bertahan dan berkembang.
Ia pun mulai menyusun arah usaha secara bertahap. Tidak hanya soal rasa, tetapi juga tentang kepercayaan. Eka belajar memahami pentingnya izin dan standar produk pangan agar bisnisnya tidak berhenti di lingkup lokal. Baginya, legalitas adalah jembatan menuju pasar yang lebih luas sekaligus penguat keyakinan konsumen.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Awalnya jualan apa adanya, belum terpikir sampai urusan izin. Lama-lama saya sadar, kalau ingin maju harus tertib,” ujarnya.
Halal sebagai Pegangan Proses Produksi
Satu hal yang kemudian menjadi perhatian utama adalah sertifikasi halal. Eka memandang halal bukan semata-mata kebutuhan label, melainkan janji yang harus dijaga lewat proses produksi yang bersih dan tertata.
Ia mengakui, proses pengurusan sertifikasi sempat membingungkan. Namun, setelah mendapat pendampingan, tahapan yang sebelumnya terasa rumit menjadi lebih mudah dipahami. Sejak itu, ia semakin disiplin menjaga standar: kebersihan dapur, ketertiban alur kerja, hingga kontrol bahan.
Komposisi Lebih “Ikan”, Mutu Dijaga dengan Sistem
Ciri pempek buatan Eka ada pada komposisinya: porsi ikan dibuat dominan sehingga rasa lebih kuat. Untuk kebutuhan pengiriman, ia menerapkan metode vacuum dan pembekuan sejak awal produksi agar ketahanan produk lebih terjaga saat dikirim jarak jauh.
Selain mutu isi, Eka juga menaruh perhatian pada tampilan. Kemasan dibuat lebih rapi dan terlihat premium. Ia percaya, kemasan bukan sekadar bungkus, tetapi bagian dari cara membangun kepercayaan pelanggan—terutama untuk pasar yang menilai produk dari detail.
Ekspor Berawal dari “Coba Bawa”, Lalu Meledak Pesanan
Peluang pasar luar negeri muncul dari kejadian yang tak direncanakan. Pempeknya pernah dibawa sebagai oleh-oleh ke Amerika. Responsnya di luar dugaan: orang-orang yang mencoba kemudian memesan lagi, dalam jumlah lebih besar. Dari sana, jaringan pelanggan melebar dan permintaan terus datang dari berbagai negara.
Kini, dapur produksinya tak pernah benar-benar lengang. Volume produksi menyesuaikan pesanan—kadang beberapa kilogram, kadang belasan hingga puluhan kilogram. Mekanisme pemesanan dibuat praktis, sehingga pelanggan cukup menghubungi dan produk langsung dikirim ke alamat tujuan.
Dapur Kecil, Mimpi Besar
Meski sudah dikenal lebih luas, Eka tetap menjalankan usahanya dengan cara yang sederhana. Baginya, keberhasilan bukan hanya soal omzet, tetapi soal keberlanjutan: usaha yang bisa menghidupi keluarga, memberi pekerjaan, dan membawa cita rasa Palembang melangkah jauh.
Hingga periode terakhir yang diceritakan, pusat produksinya masih berada di dapur rumahan yang sama. Tempatnya tidak berubah drastis, tetapi standarnya terus naik. Eka meyakini bisnis kuliner tidak cukup hanya “enak”—ia harus bersih, tertib, konsisten, dan berani memenuhi standar.
Kisah ini menjadi pesan penting bagi pelaku UMKM: jalan menuju pasar besar sering kali dimulai dari langkah paling sederhana—asal dijalani dengan disiplin, kesungguhan, dan komitmen menjaga kualitas.













