azmedia
×
Swipe up untuk membaca artikel

Ingin membaca berita tanpa iklan?

Buka di aplikasi AZMEDIA

INSTALL

Bupati Tulungagung Pimpin Rapat Koordinasi dan Sosialisasi Cegah PMK Pada Hewan Ternak

Bupati Tulungagung Pimpin Rapat Koordinasi dan Sosialisasi Cegah PMK Pada Hewan Ternak

Img 20220524 Wa0102 Bupati Tulungagung Pimpin Rapat Koordinasi Dan Sosialisasi Cegah Pmk Pada Hewan Ternak

TULUNGAGUNG.AZMEDIA.CO.ID – Pemerintah Kabupaten Tulungagung menggelar Rapat Koordinasi dan Sosialisasi tentang Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada Hewan Ternak, bertempat di Pendopo Kongas Arum Kusumaning Bongso. Selasa, (24/05/2022) Siang.

Dalam sambutannya, Bupati Tulungagung Drs. Maryoto Birowo, MM mengatakan, beberapa pekan ini baik di media cetak maupun elektronik telah beredar berita terkait penyakit mulut dan kuku yang merupakan wabah virus pada hewan ternak ruminansia yang telah menyerang di beberapa Kabupaten/Kota dalam Provinsi Jawa Timur.

“Wabah ini menyebabkan penyakit viral yang sangat menular dan menyerang semua hewan berkuku belah/genap seperti sapi, kerbau, domba, kambing, rusa, unta, dan termasuk hewan liar seperti gajah, antelope, bison, menjangan, dan jerapah”, katanya.

Bupati Maryoto Birowo menyampaikan, perlu diketahui bahwa, Menteri Pertanian telah menetapkan 4 (empat) Kabupaten di Provinsi Jawa Timur sebagai wilayah tertular Penyakit Mulut dan Kuku melalui Keputusan Menteri Pertanian Nomor : 403/KPTS/PK.300/M/05/2022 Tanggal 09 Mei 2022.

“Namun demikian dalam perkembangannya penyakit mulut dan kuku semakin meluas, sampai dengan saat ini sudah 18 (delapan belas) Kabupaten / Kota yang berstatus tertular (positif), yaitu : Gresik, Lamongan, Sidoarjo, Mojokerto, Lumajang, Probolinggo, Malang, Batu, Jombang, Pasuruan, Jember, Kota Surabaya, Kota Malang, Magetan, Kota Probolinggo, Tuban, Bojonegoro, Bangkalan”, ucap Maryoto.

“Sedangkan 6 (enam) Kabupaten / Kota berstatus suspect (terduga), yaitu : Sumenep, Sampang, Bondowoso, Kediri, Madiun dan Nganjuk. Sementara Kabupaten bebas penyakit mulut dan kuku sejumlah 10 (sepuluh), yaitu : Tulungagung, Trenggalek, Blitar, Kota Blitar, Ponorogo, Pacitan, Ngawi, Banyuwangi, Situbondo, Pamekasan”, sambungnya.

Adapun tanda-tanda klinis hewan yang menderita penyakit mulut dan kuku, diantaranya adalah :

1. Demam tinggi ( Mencapai 41 C )

2. Munscul vesikel ( seperti sariawan ) di lidah, mulut, hidung, moncong dan puting susu

3.Keluar air liur berlebihan (hipersalivasi)

4. Tidak mau makan

5. Muncul lesi (luka) pada kaki antar kuku, kepincangan, enggan bergerak dan pengelupasan kuku.

Bupati Tulungagung juga menegaskan, bahwa Penyakit Mulut dan Kuku disebabkan oleh virus genus picornaviridae family aptovirus, dan tidak bersifat Zoonosis, artinya penyakit ini tidak menular ke manusia.

“Meskipun tingkat kematian kecil pada ternak (1-5%), namun tingkat penularan tinggi antar ternak satu dengan yang lainnya bisa mencapai 90% – 100%, adapun hewan yang rentan terhadap PMK adalah ternak ruminansia (sapi, kerbau, kambing, domba dan babi”, terangnya.

Lebih lanjut, Bupati Tulungagung menekankan, bahwa menindaklanjuti semakin meluasnya wabah penyakit mulut dan kuku tersebut, terdapat kebijakan yang telah dilakukan oleh Pemkab Tulungagung, diantarannya adalah :

1. Mengeluarkan Surat Edaran Nomor : 524.3/816/113/2022 tentang kewaspadaan dini penyakit mulut dan kuku di Kabupaten Tulungagung.

2. Larangan sementara pemasukan dan pengeluaran ternak (sapi, kerbau, kambing, domba dan babi) ke daerah wabah dan suspect (terduga).

3. Larangan sementara pemasukan dan pengeluaran produk ternak (kulit, daging, tulang) serta bahan ternak dari daerah wabah dan suspect (terduga).

4. Ternak dan produk ternak yang dapat dimasukkan ke wilayah Kabupaten Tulungagung adalah yang berasal dari daerah bebas penyakit mulut dan kuku, harus disertai dengan Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH) untuk ternak dan Surat Keterangan Kesehatan Produk Hewan (SKKPH) untuk produk ternak, yang dikeluarkan oleh dokter hewan berwenang.

5. Penutupan jalur pemasukan media pembawa penyakit, diantaranya yaitu penutupan sementara pasar hewan.

6. Penelusuran dan peningkatan survailans oleh seluruh petugas yang ada di wilayah kerja Puskeswan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan.

7. Komunikasi, informasi dan Edukasi (KIE) kepada masyarakat tentang penyakit mulut dan kuku.

8. Menjaga kebersihan kandang dan lingkungan sekitar dengan melakukan desinfeksi secara rutin.

Selanjutnya Bupati Maryoto menghimbau, bahwa kerjasama dan sinergitas antar instansi terkait sangat dibutuhkan dalam meningkatkan kewaspadaan dini dan mempertahankan Kabupaten Tulungagung bebas penyakit mulut dan kuku ini.

“Oleh karena itu, dibutuhkan partisipasi aktif seluruh masyarakat peternakan Kabupaten Tulungagung untuk saling bahu membahu mencegah masuknya penyakit mulut dan kuku di Kabupaten Tulungagung,” pungkas Bupati.

Rapat yang dipimpin Bupati Tulungagung Drs. Maryoto Birowo, MM. Turut hadir Wakil Bupati Tulungagung Gatut Sunu Wibowo, SE, Jajaran Forkopimda Tulungagung, Kabid Kesehatan Hewan Dinas Peternakan Prov Jatim Dr. drh. Iswahyudi, MP, Kadin Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Tulungagung Mulyanto, S.Pt., MM, Kadin Kesehatan Tulungagung dr. Kasil Rokhmad, MM.RS, Kepala Perangkat Daerah terkait, serta diikuti oleh Camat se Kabupaten Tulungagung, jajaran Kapolsek se Tulungagung, jajaran Danramil se Tulungagung, dan Jajaran Pejabat Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Tulungagung. (Prn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.