Mencari ‘Revolusi Mental’ yang Hilang di Pidato Jokowi

AZMEDIA.co.id — Presiden terpilih Joko Widodo (Jokowi) menyatakan fokus pemerintahan lima tahun ke depan adalah pembangunan sumber daya manusia (SDM). Bunyi janji itu disampaikan Jokowi saat penyampaian Visi Indonesia 2019 di Sentul International Convention Center (SICC), Bogor, Jawa Barat, Minggu (14/7) malam.

Mantan wali kota Solo itu menekankan SDM jadi kunci bagi Indonesia ke depan. Bermula dari jaminan kesehatan ibu hamil, bayi, balita, hingga anak sekolah. Jokowi juga menekankan pengembangan SDM melalui peningkatan kualitas pendidikan dengan sekolah vokasi hingga manajemen talenta.

Visi ini dinilai tak jauh berbeda dengan program prioritas Jokowi di masa pemerintahan 2014-2019 yang menargetkan revolusi mental atau pembangunan karakter. Program yang saban momen dapat kritik banyak pihak. Bukan alasan, pembangunan karakter yang diusung Jokowi tak berbanding lurus. Penyidikan kasus korupsi terus menumpuk di meja Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Hilangnya diksi ‘revolusi mental’ dari mikrofon pidato Jokowi kemarin tak luput mengundang sorotan.

Direktur Eksekutif Median, Rico Marbun mengatakan pada periode pertama, Jokowi sengaja menggunakan istilah-istilah yang atraktif karena menjadi ajang ‘promosi’ sebagai presiden yang baru terpilih.

“Revolusi mental. Sengaja memakai bahasa yang ‘melangit’ dan atraktif di periode pertama. Tapi di periode kedua ini dia lebih realistis, bahasa yang digunakan lebih sederhana,” uja Rico saat dihubungi CNNIndonesia.com, Senin (15/7).

Rico tak menampik bahwa istilah revolusi mental itu tak lagi digunakan Jokowi lantaran dikritik oleh banyak pihak. Penggunaan istilah itu pun tak dianggap penting lagi oleh Jokowi pada periode mendatang.

Selain itu, kata Rico, Jokowi juga dinilai ingin lebih fokus menjalankan program-programnya dengan menjelaskan secara gamblang tentang kesehatan ibu hamil hingga stunting.

Mencari 'Revolusi Mental' yang Hilang dari Pidato JokowiSalah satu gerakan revolusi mental. (ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan)

“Isu itu kan sangat mikro ya, mungkin dia ingin lebih fokus sehingga tidak ingin ada lagi kata-kata yang melangit. Kalau soal (revolusi mental) itu gagal mungkin karena terlalu banyak diserang lawan, sehingga sekarang dianggap tidak penting lagi,” katanya.

Penggunaan istilah yang lebih sederhana, menurut Rico, secara tak langsung akan memicu masyarakat tak lagi menumpukkan harapan terlalu tinggi pada Jokowi. Di sisi lain, sambung Rico, hal itu mestinya membuat Jokowi lebih mudah mencapai target pembangunan SDM selama lima tahun mendatang.

Pengamat politik Universitas Al-Azhar, Ujang Komarudin mengatakan Jokowi sejatinya tak benar-benar menghilangkan program revolusi mental yang digaungkan lima tahun lalu pada visi pemerintahan ke depan. Menurutnya, program itu justru masih menjadi bagian dari pembangunan SDM yang disebutkan Jokowi.

“Jadi mental yang dianggap tidak mau kerja keras, koruptif, menyerang orang lain, mental inilah yang harus diubah dalam konteks pembangunan SDM,” terangnya.

Kendati demikian, Ujang mengakui bahwa program revolusi mental dianggap gagal lantaran banyak pihak yang mengkritik. Jokowi pun tak lagi menggunakan istilah tersebut dan lebih fokus pada pembangunan SDM.

“Selain banyak kritik pada periode lalu, kalau sekarang Pak Jokowi kan lebih bebas, jadi dia tidak menggunakan istilah itu lagi,” tuturnya.(Sumber:CnnIndonesia)